News Update :
Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Sejarah Rumah Sakit Wijaya Kusumah Kuningan

Penulis : Unknown on Sunday, November 6, 2016 | 09:08

Sunday, November 6, 2016

Sejarah Rumah Sakit Wijaya Kuningan
Sejarah Rumah sakit wijaya kusumah kuningan
Rumah Sakit Wijaya Kusumah merupakan salah satu rumah sakit swasta yang terletak di jln. RE. Martadinata No.172 Kuningan Jawa Barat, diresmikan tanggal 3 September 1986 oleh Gubernur Jawa Barat waktu itu, Yogi S. Memet. Sesuai dengan niat, landasan dan semangat dari H. Sjamhudi selaku pendiri Rumah Sakit Wijaya Kusumah, rumah sakik ini dibangun dalam rangka melaksanakan dua misi sekaligus, yakni sebagai pusat pelayanan kesehatan yang islami, profesional dan bermutu dan merupakan wujud pengabdian dari seorang putra daerah asal Kuningan untuk membantu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Kabupaten Kuningan.

Sebagai rumah sakit yang kental dengan unsur keislaman dan sesuai dengan misinya maka Rumah Sakit Wijaya Kusumah dengan segenap elemen yang ada didalamnya, sadar betul bahwa uapaya pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat merupakan suatu ikhtiar yang keberhasilannya sangat tergantung kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya Wa Idzaa Maridhtu fahuwa yasyfiin.



Dan apa bila aku sakit maka Dilah (Allah) yang menyembuhkan (Qs.Asy-Syu ara:80).


Oleh karena itu dalam rangka pengejawantahan komitmen keislaman di Rumah Sakit Wijaya Kusumah, maka firman Allah tersebut diatas disepakati untuk dijadikan sebagai motto kerja bagi para dokter, perawat dan seluruh karyawan Rumah Sakit Wijaya Kusumah.

Jika kita memasuki atau berada di Rumah Sakit Wijaya Kusumah, kita dapat membaca motto Rumah Sakit Wijaya Kusumah secara jelas di lobi rumah sakit. Motto tersebut selain sebagai renungan bagi umat Islam, juga menjadi bagian dari ornamen gedung rumah sakit sehingga melengkapi keindahan dan kesejukan bagi para pengunjung.

Lebih dari itu dipampangnya motto dimaksudkan untuk memupuk loyalitas tekad pantang menyerah, sikap disiplin, kerja keras, jujur, berkepribadian, berfikir positif, rasional, obyektif, adil dan berhati bersih serta tertib beribadah bagi setiap individu pengelola Rumah Sakit Wijaya Kusumah. Hal ini sesuai dengan budaya kerja rumah sakit yaitu, 3S (salam, sapa dan senyum) dan 5R (ramah, rapih, rajin, rawat dan responsif. Dengan demikian diharapkan pelaksanaan tugas dan fungsi rumah sakit merupakan wujud amal shaleh pada sesama sesuai visi dan misi yang telah ditetapkan.

Cikal bakal berdirinya rumah sakit ini bermula dari adanya ajakan Bupati Kuningan sewaktu dijabat oleh Drs. Jufri Pringadi. Beliau selalu menghimbau agar masyarakat Kuningan, bagi yang berada didaerah maupun yang sedang merantau di kota besar khususnya di Jakarta dan Bandung, kiranya dapat menaruh minat untuk ikut serta membangun daerah asalnya di Kuningan.

Berkali-kali ajakan tersebut dilontarkan oleh Bupati Kuningan baik melalui forum-forum resmi seperti dalam forum ulang tahun Kuningan, yang pada setiap tahunya selalu diadakan, maupun dalam rangkaian kunjungan silaturahminya mendatangi tokoh-tokoh Kuningan di Jakarta. Salah satu tokoh yang dihimbau dan didatangi oleh bupati kuningan tersebut diantaranya H. Sjamhudi.

Kita ketahui bahwa H. Sjamhudi adalah businessman sukses yang memiliki segudang pengalaman dengan intensitas dan kualitasnya yang tinggi dalam berbagai usaha yang digelutinya. H. Sjamhudi sendiri adalah murni pituin Kuningan, tepatnya di Desa Baok, Kecamatan Ciwaru yang sudah puluhan tahun menetap di Jakarta. Ia merupakan putra tertua dari pasangan H. Satria (alm) dan Hj. Uminah (alm)

Sebagai pengusaha sukses dan mempunyai kepedulian yang tinggi untuk memajukan Kabupaten Kuningan, maka ajakan Bupati tersebut mendapat respon positif dari H. Sjamhudi. Sejak itu H. Sjamhudi mamulai memikirkan dan mengidentifikasi bentuk sumbangan apa yang paling tepat dan bermanfaat bagi masyarakat kuningan.

Tak lama setelah melalui berbagai pertimbangan, khususnya input dari Dr. Habban Abdurrahman, H. Sjamhudi memutuskan untuk segera membangun Rumah Sakit Swasta di Kuningan. Walau dalam proses pengambilan keputusan ada juga teman-teman bisnisnya yang menyarankan tidak berinvestasi dalam bentuk rumah sakit denga alasan sudah ada dua rumah sakit yang memadai yang dapat melayani pasien untuk tingkat Kabupaten Kuningan, yakni RSUD 45 dan RS Sekarkamulyan Cigugur, namun demikian, tekad H. Sjamhudi untuk mendirikan rumah sakit tersebut tampaknya sudah bulat dan matang sehingga optimisme H. Sjamhudi dari waktu ke waktu bertambah kuat untuk mendirikan rumah sakit swasta di Kabupaten Kuningan.

Untuk mewujudkan pembangunan Rumah Sakit Wijaya Kusumah, langkah awal yang ditempuh oleh  H. Sjamhudi adalah membentuk sebuah yayasan yang berfungsi sebagai payung organisasi dalam melaksanakan fungsi-fungsi manajemen rumah sakit, baik dari mulai planing, organising, actuating,, sampai kepada controling (POAC).

Yayasan tersebut kemudian diberi nama Yayasan Wijaya Kusumah, yang didalamnya mengandung arti dan nilai keabadian, keteladanan, kejuangan dan sekaliguspula dengan nilai kedaerahan. Sesuai dengan akta notaris Imas Fatimah, SH, nomor 33 tanggal 11 Januari 1985, maka formasi dan susunan pengurus Yayasan Wijaya Kusumah itu meliputi tiga unsur penting yang saling menunjang, yaitu unsur dewan pendiri, unsur pelindung/penasehat dan unsur badan pengurus.

Selain H. Sjamhudi pada jajaran dewan pendiri duduk pula nama-nama pengusaha terkenal lainnya di Jakarta seperti H. Zaelani Zein, H. Effendi Yisuf, dan H. Sumya Azis Shobari.

Untuk unsur pelindung/penasehat dijabat oleh dua orang tokoh daerah yang berpengaruh saat itu, yakni Drs H. Djufri Pringadi dan H. Achmad Sanusi.

Jajaran badan pengurus diamanatkan kepada H. Sjamhudi (Ketua Umum), H. Zaelani Zein (Ketua I), Dr. Habban Abdurrahman (Ketua II), H. S. Djuanda (Sekretaris I), dan Ny. Hj. Nani Sjamhudi (Sekretaris II), H. Sumya Azis Shobari selaku Bendaharanya.

Sejak berdirinya Yayasan Wijaya Kusumah yang kantor pusatnya di Jalan Tener Raya No.5 Jakarta Timur, cita-cita H. Sjamhudi untuk turut berperan mewujudkan dan meningkatkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi semua lapisan masyarakat di Kuningan semakin mendekati kenyataan. terlebih dengan adanya dukungan dari para tokoh  masyarakat dan alim ulama, semakin mempercepat terealisasinya Rumah Sakit Wijaya Kusumah.

Akhirnya hanya dalam waktu tiga bulan sejak berdirinya Yayasan Wijaya Kusumah, tepatnya tanggal 1 April 1985, dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Rumah Sakit Wijaya Kusumah di areal tanah seluas 12.650 meter persegi. Pada kesempatan itu hadir dan ikut meletakkan batu pertama antara lain :

  1. H. Sjamhudi
  2. H. Sumya Azis Shobari
  3. H. Zaelani Zein
  4. Drs. H. Djufri Pringadi
  5. Dr H. Toteng Djauhari Indraatmadja ( waktu itu selaku Kepala Dinas Kesehatan Kab. Kuningan).

Dibawah Naungan Yayasan Wijaya Kusumah  ( Akta Notaris Imas Fatimah, SH.  No. 33 ), Rumah Sakit Wijaya Kusumah  mengawali pelayanannya dengan hanya memiliki fasilitas Rawat Jalan dan Rawat Inap sebanyak 35 TT. Seiring dengan makin meningkatnya kepercayaan masyarakat,   menuntut adanya perluasan dan pengembangan fasilitas sarana dan pra sarana serta jenis pelayanannya. Sebagai respon atas animo masyarakat tersebut maka pada tahun 1989 dilakukan  penambahan tempat tidur menjadi 75 tempat tidur, pada tahun 2002 dilakukan pula perluasan bangunan dan penambhan tempat tidur   menjadi  130 tempat tidur  serta pada tahun 2008 telah dibangun fasilitas ICU dengan kapasitas 6 tempat tidur.

Pengembangan sarana tersebut seiring dengan meningkatnya pemintaan masyarakat  yang memerlukan pelayanan kami,  Oleh karena itu komitmen kami untuk melakukan perbaikan  yang tiada henti, terus dilakukan pada berbagai segi, didukung oleh  tenaga-tenaga professional dibidangnya masing-masing dengan tujuan dapat  memberikan pelayanan terbaik dan Islami

Sumber : http://rswijayakusumah.com/main.php?module=main

comments | | Read More...

Panduan Praktis Ajaib Al Quran Menjadi Manusia Cerdas 486x60

Sejarah Desa Cilimus Kuningan

Penulis : Unknown on Saturday, November 14, 2015 | 11:02

Saturday, November 14, 2015

 Secara etimologi Cilimus berasal dari kata “cai” dan “limus” atau “cailimus” disingkat “Cilimus”. Secara terminologi, Cilimus sebagaimana umumnya nama suatu tempat di tatar sunda selalu di awali dengan kata “Ci” atau “Cai” (air) yakni suatu Padukuhan atau tempat berdiamnya suatu komunitas masyarakat di tatar Sunda yang ditempat tersebut banyak terdapat pohon Mangga Limus disepanjang sungai Cibacang. Cibacang sendiri berasal dari kata “cai” dan “embacang” atau nama lain dari mangga limus juga. Sungai tersebut mengalir dari lereng gunung Ciremai terus membujur ke arah timur hingga memasuki dan melewati suatu kampung yang bernama Tarikolot, suatu kampung (umbul, menurut istilah setempat) sebagai pusat pemerintahan Pakuwon (Pakuwuan) Cilimus sebagai cikal bakal nama Desa Cilimus dimasa kini.

Nama Pakuwon Cilimus mulai dipakai saat pemukiman ini mulai dipimpin oleh tokoh yang bernama Ki Buyut Sacawana yang saat itu masuk dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Kasepuhan yang memiliki 80 pakuwon dan beberapa kabupatian. Sehingga yang menjadi pokok penelusuran sejarah Cilimus dimulai dari tokoh Ki Buyut Sacawana ini.

Desa Cilimus sebagai Ibu Kota Kecamatan Cilimus serta eks Kawedanan Cilimus, secara geografis terletak diantara wilayah Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat. Batas wilayah Kecamatan Cilimus, sebelah utara berbatasan dengan wilayah Kecamatan Beber Kabupaten Cirebon. Sebelah Barat berbatasan dengan Gunung Ciremai, sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Cigandamekar Kabupaten Kuningan dan sebelah Selatan berbatasan dengan wilayah Kecamatan Jalaksana Kabupaten Kuningan.

ASAL USUL NAMA TEMPAT DAN TOKOH PENDIRI CILIMUS
Sejarah Cilimus terungkap kembali saat Nusantara dalam cengkraman penjajahan Belanda, tepatnya saat Belanda kembali menjajah menggantikan Inggris yang hengkang dari bumi pertiwi pada tahun 1817 masehi.

Namun pada masa penjajahan Belanda ini, wilayah Pakuwon Cilimus masuk dalam wilayah Kabupatian Linggajati yang berdampingan dengan Kabupatian Kuningan yang sama-sama masuk dalam wilayah kedaulatan Kesultanan Kasepuhan Cirebon. Hal ini didapat pada laporan Residen Cirebon yang bernama P.H. Van Der Kemp yang tertuang pada Beslit No. 13 tanggal 30 Januari 1818 yang melaporkan bahwa, telah memerintahkan Bupati Linggajati untuk membantu Opsiner Kehutanan Banyaran yang bernama Prudants dan Bupati Bengawan Wetan yakni Raden Adipati Nitidiningrat yang kewalahan dalam melawan para pemberontak yang tengah mundur ke Palimanan. (P.H. Van Der Kemp. 1979: 16).

Situasi saat itu memang tengah gencar-gencarnya pemberontakan yang terkenal dengan istilah Perang Kedondong di antero wilayah Cirebon, Karawang, Majalengka hingga Kabupatian Talaga yang dipimpin oleh Ki Bagus Rangin dan Ki Bagus Serit atau pada masa Sultan Sepuh VIII yakni Sultan Raja Udaka (1815-1845) sebagai kelanjutan dari Pemberontakan Pangeran Suryanegara tahun 1753-1773 (Iswara. 2009: 28).

1. RATU NGADEG PIAMBEK
Syahdan, dalam situasi yang masih belum pulih akibat peristiwa pemberontakan oleh PANGERAN SURYANEGARA II alias Pangeran Arya Panengah Abukayat Suryakusuma, beliau adalah anak ke-2 dari Sultan Sepuh IV Raja Amir Sena Mohammad Jaenudin dan juga adik Sultan Sepuh V Sultan Matangaji. Makam Pangeran Suryanegara II berada di Komplek Pemakaman Gunung Sembung Cirebon.

Setelah keluar dari Keraton Kasepuhan karena ketidaksesuaian faham dengan Sultan Sepuh pengganti kakaknya. Selanjutnya beliau berkedudukan di Mertasinga yang dahulunya merupakan ibukota Kerajaan Singapura sebelum era Kesultanan Cirebon berdiri.

Pada masa itu, telah lahir seorang putra dari ibu Nyi Mas Sri Murti Wulandari & ayah bernama Pangeran Lubang Suryakusuma (anak dari Pangeran Suryanegara II dari istri Ratu Pinangsih Sitoresmi/ Siti Khadijah binti Ki Kriyan).

Bayi tersebut bernama Pangeran Adiredja Martakusumah yang lahir pada hari Jum’at Legi tanggal 8 November 1811 di Mertasinga (5 km utara kompleks Pemakaman Gunung Sembung).
Menurut pitutur para sepuh, sejak usia remaja Pangeran Adiredja Martakusumah senang menuntut ilmu, utamanya ilmu kedigjayaan sehingga bisa menguasai ilmu kesaktian yang pada masa itu dianggap sangat tinggi yakni ilmu Rawe Rontek.

Namun sejak kecil Pangeran Adiredja Martakusumah pun sudah mendapat gemblengan ilmu lahir dan ilmu batin dari ayahnya. Disamping belajar ilmu agama dan darigama, ia digembleng fisiknya dengan ilmu silat oleh ayahnya.

Menjelang masa remaja, pangeran muda tersebut berguru pada seorang mantan pendekar sakti yang mengasingkan diri dipinggiran kota raja (mungkin disekitaran Kota Sumber sekarang).
Pangeran muda tersebut akhirnya bisa mengabdi di Keraton Kasepuhan atas jasa seorang Pengageng Keraton Kasepuhan yang disegani raja yang saat itu dijabat oleh Sultan Sepuh IX Sultan Radja Sulaeman. Jadi meskipun beliau putra dan cucu seorang pemberontak, disamping jasa sang pengageng tadi, toh beliau juga masih kerabat dekat keraton.

Dikisahkan, pada usia 36 tahun atau tepatnya tahun 1847 Pangeran Adiredja Martakusumah mendapat tugas dari Keraton Kasepuhan atas usul dan dukungan Pengageng Keraton yang disegani tadi untuk mengelola pemukiman di suatu padukuhan diwilayah kidul yang mulai berkembang yang terdapat banyak pohon mangga limus disekitarnya yang pada akhirnya bernama Pakuwon Cilimus, yang dikemudian hari berubah lagi menjadi Desa Cilimus.

Sebenarnya, secara politis, maksud Pengageng Keraton Kasepuhan tersebut mengutus keturunan Sultan Sepuh IV tadi adalah untuk mengantisipasi bila ancaman Belanda benar-benar dilaksanakan, yakni akan mengebom keraton sebagaimana nasib keraton Banten yang dibumi hanguskan oleh Belanda akibat pemberontakan Sultan Banten kepada penjajah Belanda. Ancaman tersebut disampaikan Belanda sewaktu meminta Pangeran Suryanegara II menghentikan pemberontakan. Jadi antisipasi tersebut yakni dengan mempersiapkan pusat pemerintahan darurat diwilayah kidul dengan mengutus seorang yang memiliki trah dari Sunan Gunung Jati sebagai penerus Kesultanan Kasepuhan Cirebon. Tapi untunglah ancaman Belanda tersebut tidak pernah dilaksanakan karena Sultan Sepuh saat itu pernah menyurati Pangeran Suryanegara II memohon untuk menghentikan perlawanan kepada Belanda demi keutuhan keraton warisan yang sama-sama mereka hormati Sinuwun Sunan Gunung Jati.

Kembali pada kisah perjalanan Pangeran Adiredja Martakusumah yang meninggalkan Cirebon disertai 2 (dua) orang Istrinya serta 5 (lima) orang anaknya beserta beberapa orang pengikutnya diantaranya bernama Raden Langlangbuwana, Raden Singadiperana dan Raden Gunawicara, mereka adalah menak keturunan Dalem Darim dari keturunan Sunan Gunung Agung atau Buyut Pakidulan (Garut) . (Nama-nama tadi pernah diabadikan sebagai nama Sekolah Dasar Langlang Buwana di umbul Kalungluwuk yang sekarang bernama SDN V Cilimus dan nama SDN Gunawicara didekat Desa Indapatra).

Dengan menanggalkan pakaian pinangerannya serta menyembunyikan gelar pangerannya, Pangeran Adiredja Martakusumah menyamarkan diri dengan berpakaian yang umumnya dipakai orang-orang sunda dulu yaitu pangsi hitam-hitam dan ikat kepala balangbang semplak, berangkatlah rombongan itu menuju kearah selatan.

Mereka berkuda dan tiba disatu kampung bernama Wanacala dimana sang Orang Kepercayaan Sang Kakek (Tubagus Suryajayanegara) dikebumikan. Rombongan berhenti sejenak untuk berziarah terlebih dahulu di makam tersebut.

Setelah usai berziarah, rombongan melanjutkan perjalanannya kembali menuju selatan. Selama dalam perjalanan, Pangeran Adiredja Martakusumah berfikir-fikir tentang nama yang cocok sebagai pengganti nama aslinya bila dirinya telah tiba ditujuan.

Terinspirasikan nama kampung Wanacala tersebut, beliau mengutak-atik nama kampung tersebut, wana-cala, dibalik cala-wana. Akhirnya didapat nama yang cocok yakni “SACAWANA” (gabungan dari “Saca” dan “Wana”). Saat itu nama “saca” banyak dipakai para menak sunda seperti sacanata, sacadilaga, saca mangunhardja dan lain sebagainya.

Akhirnya Pangeran Adiredja Martakusumah memerintahkan kepada para keluarga serta pengikutnya untuk memanggil dirinya dengan nama baru yakni Ki Sacawana.
Setibanya disuatu tempat yang banyak terdapat pohon mangga limus yang buahnya sangat harum dan khas aromanya utamanya banyak terdapat di sepanjang sungai ditempat itu, sehingga pakuwon itu ia beri nama CILIMUS dari kata “air buah limus”.

Sebelum sampai ditepi sungai dimaksud tadi, Ki Sacawana dan rombongan sejenak berhenti dibawah pohon Beringin Karet yang sangat besar (sekarang berada di alun-alun Cilimus/ terminal mobil Cilimus). Sejenak beliau berkontemplasi dengan mengerahkan segenap daya cipta rasa mata batin untuk menembus kegaiban ditempat itu karena getaran yang kuat sudah dirasa sejak melihat pohon beringin karet tersebut dari jauh.

Dari hasil kontemplasi Ki Sacawana, rupanya mahluk ghaib (danyang atau dahiang) yang bernama Nyai Andayasari sejenis jin muslim yang “ngageugeuh” (mengayomi) di padukuhan itu telah menyambut kedatangan Ki Sacawana beserta rombongan. (Nama Andayasari pernah diabadikan sebagai nama Sekolah Dasar Inpres Andayasari di Jalan Pasawahan sekarang).

Setelah tiba ditepi sungai yang banyak pohon mangga limusnya tadi, sekarang bernama “goang” (sungai) Cibacang, rombongan tersebut sejenak beristirahat untuk melepaskan lelah. Setelah merasa cukup beristirahat rombongan tidak terus berjalan ke arah selatan melainkan berjalan ke arah timur menyusuri sungai Cibacang tadi. Akhirnya tiba disatu tempat yang dirasa tepat untuk mendirikan tempat tinggal dan pusat pemerintahan yang bernama Tarikolot.

Setibanya di padukuhan Tarikolot, Ki Sacawana mulai membangun pemukiman dan juga balai pusat pemerintahan (istilah sekarang bernama Balai Desa). Dengan dibantu oleh beberapa orang tokoh selain yang ikut dalam rombongan tadi yaitu Ki Jaliman dan beberapa orang lainnya yang kesemuanya adalah pengikut setia Ki Sacawana hingga akhir hayatnya.

Begitu besar wibawa sang pangeran yang telah berganti nama menjadi Ki Sacawana dihadapan rakyat Cilimus dan sekitarnya sehingga beliau mendapat julukan RATU NGADEG PIAMBEK, dari bahasa sunda buhun yang artinya raja yang berdiri sendiri atau raja yang tidak dipilih rakyat tapi jadi dengan sendirinya.

Ki Buyut Sacawana atau Ratu Ngadeg Piambek memiliki profil yang menarik. Beliau berperawakan sedang dan berotot, agak tinggi badannya, rambutnya panjang tebal dan agak ikal, berkulit kuning langsat, berhidung mancung, bermata tajam namun teduh, bicaranya bisa tegas bisa lembut tergantung kondisi namun lemah lembut pada rakyatnya, kesukaannya berpakaian seperti kebanyakan masyarakat sunda pada masa itu yaitu baju pangsi hitam serta ikat kepala batik. Memang suatu gambaran profil yang pantas bila beliau digelari Ratu Ngadeg Piambek karena perbawa wibawa yang dimilikinya, padahal masyarakat Cilimus kebanyakan tidak mengetahui bila beliau adalah seorang keturunan raja yang disegani di Cirebon juga keturunan seorang Awliya yang menjadi panutan masyarakat tatar pasundan pada umumnya.

Pembangkangan Ki Buyut Sacawana
Sesungguhnya, dihati Pangeran Adiredja Martakusumah (Ki Sacawana) masih memendam ketidakpuasan akan nasib ayahnya juga kakeknya. Kakeknya meninggalkan Keraton Kasepuhan beserta 3 (tiga) orang adiknya yakni Pangeran Jayawikarta, Pangeran Arya Kidul dan Pengeran Arya Kulon karena alasan tertentu. Oleh karenanya P. Suryanegara II berencana membangun keraton di bekas Keraton Mertasinga (eks Kerajaan Singapura). Tapi karena Sultan Kanoman melarang untuk meneruskan pembangunan keraton dimaksud, akhirnya ditempat tersebut hanya dijadikan basis perlawanan kepada Belanda.
Ayahnya Pangeran Adiredja Martakusumah yakni P. Lubang Suryakusuma juga meninggal secara menyedihkan dengan tubuh berlubang-lubang, sehingga dikenal dengan sebutan Pangeran Lubang, namun ayahnya tersebut gugur sebagai syuhada kusuma bangsa.

Jadi kepergianya ke Cilimus adalah dengan membawa kepedihan hati dan rasa kecewa yang terpendam dihati Pangeran Adiredja Martakusumah/ Ki Sacawana, sehingga beberapa waktu kemudian beliau mulai melakukan pembangkangan terhadap pihak kerajaan Cirebon yang pada saat itu cenderung memihak kepada Belanda.

Dengan cara rahasia, mulailah beliau melakukan pembangkangan atau pemberontakan dengan rapinya. Pembangkangan kepada Kesultanan Kasepuhan pada hakekatnya adalah pemberontakan kepada penjajah Belanda dengan cara gerilya. Diceritakan bahwa, banyak anak buahnya yang menyamar jadi pedagang bila bertemu dengan Serdadu Belanda yang sedang lengah, mereka membunuh serdadu itu hanya dengan alat sederhana semisal ditusuk dengan garpu makan dan sebagainya.

Ki Sacawana seorang ”jadug” yang sakti mandraguna, tidak bisa mati selama tubuhnya menyentuh tanah kendati tubuhnya itu sudah terpotong-potong. Itulah yang dikenal dengan Ajian Rawe Rontek, ilmu andalah Ki Buyut Sacawana.

Dikisahkan, dalam melaksanakan aksinya Ki Sacawana suka menghentikan dan menyamun para utusan penguasa dari wilayah kidul yang saat itu masih mengakui kedaulatan Cirebon seperti dari Ciamis, Tasikmalaya dan lain-lainnya. Ki Sacawana dan para pengikutnya bertindak ala Robinhood dalam cerita kepahlawanan Inggris, karena hasil rampasannya tersebut selanjutnya dibagi-bagikan kepada rakyat, utamanya kepada rakyat yang miskin. Meskipun mereka menyamun, tapi Ki Sacawana dan pengikutnya bukanlah perampok sungguh-sungguh karena mereka tidak pernah menyamun para pedagang atau saudagar yang lewat diwilayah operasi mereka. Jadi yang dirampok hanyalah barang-barang upeti untuk raja Cirebon.

Tempat dimana biasanya Ki Sacawana beserta pengikutnya menyamun barang-barang upeti tersebut, hingga kini tempat itu di kenal dengan nama Ciloklok, yang maksudnya “ditelan bulat-bulat”.
Pada akhirnya perbuatan dan sepak terjang beliau lambat laun diketahui oleh pihak Keraton Kasepuhan, untuk selanjutnya diberikan peringatan untuk menghentikan aksinya tersebut, namun tidak digubris. Karena aksi pembangkangan Ki Sacawana tersebut sebenarnya bukan hanya karena menghendaki barang rampasannya semata, namun sekaligus sebagai upayanya untuk melemahkan Kesultanan Cirebon dan Belanda dengan memutuskan mata rantai dari wilayah kidul, minimal sebagai sikap balas dendam atas nasib kedua leluhurnya sebagaimana telah dipaparkan di atas tadi.

Pada akhirnya, pihak keraton di Cirebon memutuskan untuk membunuh Ki Sacawana dengan mengirimkan ponggawa keraton beserta pendekar-pendekar untuk menangkap dan membunuh Ki Sacawana. Tetapi tindakan itu selalu mengalami kegagalan dikarenakan kesaktian yang dimiliki Ki Sacawana.
Namun selanjutnya ada juga penghianat bangsa yang mau memberitahukan kelemahan beliau, bahwa Ki Sacawana hanya dapat dibunuh dengan cara bagian tubuhnya dipisah-pisahkan (mutilasi) dan dikuburkan pun secara terpisah-pisah pula.

Meninggalnya Ki Sacawana
Pada suatu ketika, datanglah di Linggajati seorang yang berpakaian kyai yang akan menjajal kesaktian Ki Buyut Sacawana yang sudah terkenal dimana-mana. Syahdan, Kyai tersebut sudah mengetahui weton kelahirannya Ki Sacawana sehingga bisa mengetahui hari naas Ki Sacawana.
Selanjutnya, dihari yang sudah diketahui sebagai hari naas Ki Sacawana, diundanglah oleh Kyai tadi untuk mengajak perang tanding kepada Ki Buyut Sacawana. Cadu mundur sanyari bumi, begitu istilahnya, Ki Sacawana menerima tantangan itu.

Bertempat di sebuah lapangan yang dikelilingi banyak pohon pinus dilereng Gunung Ciremai (mungkin diwilayah Gunung Deukeut/ Desa Setianegara sekarang), perang tanding pun mulai dilaksanakan dari pagi hingga sore hari tanpa campur tangan siapapun. Ki Sacawana bersenjatakan pusaka semacam golok panjang/ pedang dan si Kyai bersenjatakan keris berwarna putih luk-8 serta bisa memancarkan sinar putih keperakkan.

Diceritakan, adu kanuragan dengan mengeluarkan jurus-jurus silat yang pada masa itu banyak meniru gerakan-gerakan hewan berlangsung seru, serta adu kesaktian yang mendebarkan. Kesaktian mereka sebenarnya berimbang, tapi karena saat itu menurut perhitungan si kyai adalah hari naas Ki Sacawana, maka benarlah yang terjadi. Ki Sacawana akhirnya dapat ditusuk dengan keris besi putih oleh si Kyai tersebut tepat diulu hati Ki Sacawana.

Mungkin sudah suratan takdirnya, bahwa ajal sesepuh Cilimus ini harus tewas dalam adu kesaktian dan bisa dibunuh pada tahun 1880, pada saat itu usia Ki Sacawana atau Ratu Ngadek Piambek atau Pangeran Adiredja Martakusumah adalah 69 tahun.

Selanjutnya jenazah Ki Sacawana dimutilasi di atas ”anjang-anjang” tanaman labu siam untuk menghindari jasad pemilik Ajian Rawe Rontek itu menyentuh tanah dengan menggunakan keris putih luk-8 tadi. Selanjutnya jasad Ki Sacawana yang sudah terpotong menjadi 3 (tiga) bagian itu dikuburkan ditempat yang terpisah jauh yakni:


  • Bagian kepala dikuburkan di Desa Panawuan disatu perbukitan (pasir, istilah Sunda).
  • Bagian dada dan perut dikuburkan di Desa Cilimus, tepatnya di Dusun Kalungluwuk.
  • Bagian kaki dikuburkan di Desa Sindangkasih Kecamatan Beber Kabupaten Cirebon (belum diketahui tepatnya).


Anak dan Keturunan Ki Sacawana
Ki Sacawana wafat pada tahun 1880 masehi (tidak diketahui hari dan tanggalnya). Beliau meninggalkan 2 (dua) orang istri dan 5 (lima) orang anak. Dua orang anak dari istri pertama dan 3 (tiga) orang anak dari istri kedua yang bernama Nyi Mas Sri Murti Wulandari (putri dari keturunan Keraton Kasepuhan). Ki Sacawana yang pada saat itu bernama Pangeran Adiredja Martakusumah menikahi Nyi Mas Murti Wulandari pada usia 20 tahun tepatnya pada tahun 1831 masehi.

Belum diketahui semua anaknya tadi, cuma satu anak yang diketahui bernama Pangeran Rahmat Agung Martakusumah anak kedua dari ibu Nyi Mas Sri Murti Wulandari (istri ke-2) yang lahir pada hari Sabtu Wage, 6 Oktober 1832 di Keraton Kasepuhan. Adiknya menyusul lahir pada tahun 1834 dan si bungsu lahir tahun 1837 masehi.

Pangeran Rahmat Agung Martakusumah beserta keempat saudaranya lahir di Cirebon, sewaktu mereka masih kecil-kecil dan tinggal di keraton terpaksa harus hijrah mengikuti ayahnya ke Cilimus.
Setelah kejadian pembunuhan atas ayahnya yaitu Ki Sacawana, Pangeran Rahmat Agung yang pada saat itu berumur 46 tahun meninggalkan Cilimus untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, yakni berhijrah ke kampung yang bernama Lingga di wilayah Kabupaten Majalengka (belum diketahui letak kampung tersebut, karena mungkin sekarang sudah berganti nama).

Saat meninggalkan Cilimus, P. Rahmat Agung Martakusumah meninggalkan seorang istri yang bernama Nyai Siti Maemunah (Putri ke-5 dari 11 orang bersaudara Ki Buyut Marmagati/ tokoh yang akan diceritakan nanti) di Cilimus.

P. Rahmat Agung mempunyai seorang istri dan 8 (delapan) orang anak: 1. (laki-laki) 2. (perempuan) 3. (laki-laki) 4. Elang Wiguna Tawidjar Martakusumah 5. (perempuan) 6. (perempuan) 7. (laki-laki) dan 8. (perempuan).
Jadi cuma satu anaknya yang diketahui namanya, yakni anak ke-4 yang bernama Elang Wiguna Tawidjar Martakusumah (para keturunannya biasa menyebut nama pendeknya saja yakni Buyut Tawidjar).
Setelah keadaan dirasa sudah aman, P. Rahmat Agung pulang kembali Cilimus. Pada usia 70 tahun tepatnya pada tahun 1904 pangeran yang bersifat sabar, tawakal serta hidup sederhana dan juga tidak mau menjadi Kuwu Cilimus, meninggalkan dunia yang fana ini menyusul ramanya yang telah gugur sebagai kesumah dengan cara yang menyedihkan. Pada Saat itu Desa Cilimus dipimpin oleh Kuwu II yang bernama Kuwu Rumsewi (1880 s/d 1887).

2. TUBAGUS MARMAGATI
Pada era yang sama saat kedatangan Pangeran Adiredja Martakusumah/ Ki Sacawana di Pakuwon Cilimus, kedatangan seorang tokoh ulama yang bergelar Tubagus dari Kesultanan Banten yang mengganti nama dengan panggilan Ki Marmagati. Ki Marmagati meninggalkan Banten setelah Kesultanan Banten berakhir, yakni setelah meninggalnya Sultan Banten pamungkas yakni Sultan Banten XXI Sultan Muhammad Rafiuddin (1813-1820).

Karena di wilayah Banten terus dilanda kemelut, sang Tubagus meninggalkan kampung halamannya berhijrah kewilayah timur yang pada akhirnya tiba di Pakuwon Cilimus tepatnya di umbul Kukulu untuk menjalani hidup baru sembari berdakwah dan mengajarkan ilmu.
Sebagaimana halnya dengan Ki Sacawana, sang Tubagus itu pun menyembunyikan gelar kebangsawanannya dengan mengganti nama menjadi MARMAGATI, seorang ulama yang luhur budinya serta kaya ilmunya. Beliau berbadan tinggi besar, gagah, berkumis dan berjenggot lebat serta brewokan dan suka berpakaian putih-putih laiknya pakaian para ulama pada umumnya.

Ki Marmagati dan Ki Sacawana yang sama-sama keturunan dari Sunan Gunung Jati bersama-sama membesarkan Desa Cilimus pada bidang tugasnya masing-masing, akhirnya berbesanan dengan menikahkan puteri ke-5 nya yang bernama Nyai Siti Maemunah dengan putera Ki Sacawana yang bernama Rahmat (Pangeran Rahmat Agung Martakusumah).

Setelah beberapa waktu lamanya beliau mengajarkan ilmu agama Islam serta berdakwah pada masyarakat Desa Cilimus, akhirnya Ki Buyut Marmagati hijrah ke Gunung Sirah di salah satu desa di Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan. Selanjutnya beliau menetap dan berdakwah disana hingga wafatnya dan dikebumikan di Puncak Bukit Oncangan Desa Gunung Sirah (sampai sekarang makam beliau masih terawat rapi berdampingan dengan istri dan murid-muridnya).

Saat hijrahnya ke Gunung Sirah tidak diketahui kapan waktunya, namun diduga waktunya adalah pasca gugurnya Ki Buyut Sacawana. Atau kemungkinan saat menantunya hijrah ke wilayah Majalengka, beliau pun hijrah ke wilayah Darma di Kabupaten Kuningan.

3. TUBAGUS HADJI ABDUL GHAFAR (KUWU KE-III DESA CILIMUS)
Pada saat Ki Buyut Sacawana memerintah sebagai Kuwu Cilimus yang pertama, di Cilimus ada juga seorang keturunan Sunan Gunung Jati dari jalur Kesultanan Banten yang bernama Tubagus Hadji Abdul Ghafar yang lahir pada tahun 1816 di Cilimus.

Tb. H. Abdul Ghafar menjadi Kuwu Cilimus yang ke-3 menggantikan Kuwu Rumsewi pada tahun 1887 sampai tahun 1922 masehi. Bapak Tb. H. Abd. Ghafar meninggal dalam usia sangat tua yakni 106 tahun tepatnya pada tahun 1922 masehi, dimakamkan di Pemakaman Pasir Jati diposisi paling atas (bukit kecil) dekat pohon beringin.

Makam beliau berada ditengah-tengah 3 (tiga) makam yang berdampingan. Sebelah barat adalah makam putranya yang pertama yang dari istri pertamanya (Ibu Hj. Fatmah) dan yang sebelah timur adalah makam istrinya pertama tadi. Kalau makam istri ke-2 nya berada di Pemakaman Ciloklok Cilimus.
Sewaktu memerintah, Tubagus H. Abdul Ghafar (disalah satu silsilah keluarga, ditulis Abdul Gappar) dibantu oleh Juru Tulis (Sekretaris Desa) yang bernama Bapak Hadji Hasan (Elang Hasan Tawidjar Martakausumah) putra ke-2 dari 6 (enam) bersaudara Elang Wiguna Tawidjar Martakusumah. Berarti Bapak Hadji Hasan adalah cucu dari Ki Sacawana.
Sementara, Bapak Tb. H. Abdul Ghafar memiliki 2 (dua) orang istri. Istri yang pertama bernama Ibu Hadjah Fatmah, memiliki 3 (tiga) orang anak, anak pertama laki-laki meninggal dunia sewaktu kecil dan 2 orang putri.

Karena anak laki-lakinya meninggal dunia, beliau meminta izin kepada istrinya untuk menikah lagi. Ibu Hj. Fatmah ikhlas dimadu sehingga Bapak Tb. Hj. Abdul Ghafar menikah kembali dengan Ibu Salmah dan dikarunia 6 (enam) orang anak yaitu 5 (lima) orang putera dan 1 (satu) orang puteri.
Dituturkan, bahwa profil Bapak Hadji Hasan (Elang Hasan) yang mewarisi profil ayahnya yang lemah lembut, pekerja keras serta agamis juga tampan, menarik hati Pak Kuwu untuk menjodohkan dengan puterinya yang bernama Ratu Hadjah Djaonah.

Sebenarnya, kawin-mawin, silang-menyilang memang sudah menjadi tradisi di tatar Cilimus dan sekitarnya, sehingga pada umumnya, warga asli Desa Cilimus bersumber pada 3 (tiga) orang tokoh yang telah diuraikan di atas tadi yakni:
1. Ki Sacawana (Pangeran Adiredja Martakusumah) asal Cirebon;
2. Ki Marmagati (Tubagus Marmagati) asal Banten;
3. Bapak H. Abdul Ghafar (Tubagus Hadji Abdul Ghafar) keturunan Banten dan Cirebon yang lahir di Cilimus.
Sehingga para Kuwu di Desa Cilimus, bisa dikatakan umunya dari keturunan/ ada ikatan dengan ke-3 tokoh di atas tadi.

4. KUWU-KUWU YANG PERNAH MEMERINTAH DESA CILIMUS
Sejarah Cilimus lebih merunut pada para tokoh pemerintahannya yakni para kuwu yang pernah memerintah Pakuwon/ Desa Cilimus. Jadi urutan kuwu dari pra-Indonesia merdeka, pasca-Indonesia Merdeka, masa Orde lama, masa Orde Baru hingga saat sekarang ini (Orde Reformasi) bisa dirunut beserta masa jabatannya sebagai berikut:
1. P. Adiredja Martakusumah/Ki Sacawana (1847 s/d 1880)
2. Ki Rumsewi (1880 s/d 1887)
3. Tubagus Hadji Abdul Gappar (1887 s/d 1922)
3. Rd. Ranadisastra (Pejabat Kuwu)
4. Rd. Karnadisastra (1922 s/d 1928)
5. Rd. Wangsaatmaja (1928 s/d 1947)
6. E. Suarja (1947 s/d 1950)
7. Rd. Jaya Sentana (1950 s/d 1956)
8. Bapak Muhammad Hasyim (1956 s/d 1969)
9. Bapak A. Pathoni Saleh (1969 s/d 1979)
10. Bapak E. Rosyidin (1980 s/d 1988)
11. Bapak Toto (Pejabat Kuwu)
12. Bapak Masuri (1990 s/d 1998)
13. Bapak Masuri 2 (1999 s/d 2001)
14. Bapak Apip (2002 s/d 2006)
15. Bapak Nasihin Arjadisastra (2007 s/d 2013)
16. Bapak Otong Mulyadin (2013 s/d …..)

Sumber :https://www.facebook.com/kuningankab.go.id/posts/10152356921016515




comments (3) | | Read More...

Panduan Praktis Ajaib Al Quran Menjadi Manusia Cerdas 486x60

Pangeran Cakrabuana Pendiri Kota Cirebon

Penulis : Unknown on Sunday, January 11, 2015 | 08:45

Sunday, January 11, 2015

"Pangeran Cakrabuana” Tokoh Karismatik Pendiri Kota Cirebon

 Masyarakat Cirebon mungkin sudah tidak asing lagi dengan Pangeran Cakrabuana, menurut Manuskrip Purwaka Caruban Nagari, pada abad 15 di pantai Laut jawa ada sebuah desa nelayan kecil bernama Muara Jati. Pada waktu itu sudah banyak kapal asing yang datang untuk berniaga dengan penduduk setempat. Pengurus pelabuhan adalah Ki Gedeng Alang-Alang yang ditunjuk oleh penguasa Kerajaan Pajajaran dan di pelabuhan ini juga terlihat aktivitas Islam semakin berkembang. Ki Gedeng Alang-Alang memindahkan tempat pemukiman ke tempat pemukiman baru di Lemahwungkuk, 5 km arah selatan mendekati kaki bukit menuju kerajaan Galuh. Sebagai kepala pemukiman baru diangkatlah Ki Gedeng Alang-Alang dengan gelar Kuwu Cerbon.

Pada Perkembangan selanjutnya, Pangeran Walangsungsang, putra Prabu Siliwangi ditunjuk sebagai Adipati Cirebon dengan Gelar Cakrabumi. Pangeran inilah yang mendirikan Kerajaan Cirebon, diawali dengan tidak mengirimkan upeti kepada Raja Galuh. Oleh karena itu Raja Galuh mengirimkan bala tentara ke Cirebon Untuk menundukkan Adipati Cirebon, namun ternyata Adipati Cirebon terlalu kuat bagi Raja Galuh sehingga ia keluar sebagai pemenang.

Dengan demikian berdirilah kerajaan baru di Cirebon dengan Raja bergelar Cakrabuana. Berdirinya kerajaan Cirebon menandai diawalinya Kerajaan Islam Cirebon dengan pelabuhan Muara Jati yang aktivitasnya berkembang sampai kawasan Asia Tenggara.

Sampai saat ini Pangeran Cakrabuana dikenal sebagai salah satu Tokoh pendiri Cirebon, kepiawaian beliau memerintah di Cirebon sangat dikenal, dilihat dari beberapa peninggalan sejarah terjadi perpaduan seni dan budaya termasuk bahasa di Cirebon. Keanekaragaman suku bangsa dan agama tidak menjadi penghalang berjalannya pemerintahan saat itu, toleransi beragama sangat dijunjung tinggi sehingga siapapun yang tinggal di Cirebon saat itu bisa beraktivitas secara leluasa dan sepeninggal beliau sampai saat sekarang masih terjadi akulturasi budaya dan tentunya bukan sebagai budaya masing-masing suku bangsa tetapi sebagai budaya Cirebon termasuk bahasa yaitu bahasa Cirebon sebagai salah satu kekayaan bangsa.

Sudah sepatutnyalah kita sebagai generasi sekarang mampu menghargai dan menjunjung tinggi apa yang telah dilakukan oleh pendahulu kita, mari kita bangun Cirebon dan tentunya Negara Kesatuan Republik Indonesia sehingga diperhitungkan kembali di mata Internasional secara politik, perdagangan, budaya dan tentunya toleransi yang telah ditunjukan oleh para pendahulu kita.

Sumber :http://sejarah.kompasiana.com/


comments | | Read More...

Panduan Praktis Ajaib Al Quran Menjadi Manusia Cerdas 486x60

Desa Darma ‘Pos Pertahanan Terakhir’ Kerajaan Islam Cirebon

Penulis : Unknown on Saturday, May 24, 2014 | 12:35

Saturday, May 24, 2014

PADA mulanya Desa Darma bukanlah merupakan desa, saat itu tak lebih sekedar suatu tempat yang dijadikan sebagai pos pertahanan kerajaan Islam Cirebon, untuk menyerang kerajaan Galuh Talaga dan kerajaan Galuh Ciamis. Desa Darma memiliki luas 91.58 km2 terdiri atas 5 dusun ini, terletak di sebelah Utara Kecamatan Cigugur, sebelah Selatan Kabupaten Ciamis, sebelah Timur Kecamatan Nusaherang, Kadugede dan Hantara, sebelah Barat Kabupaten Majalengka.

Penelusuran jejak desa ini, diperkirakan terjadi mulai tahun 1528 M, sebagai pos pertahanan pada pertempuran terakhir kerajaan Islam Cirebon, peperangan dengan kerajaan Galuh Talaga yang berlangsung selama kurun waktu 5 tahun dan 5 kali pertempuran. Segenap kekuatan kerajaan Islam di nusantara seperti kerajaan Islam dari Sumatera, Malaka, Banten dan Dari Demak oleh kerajaan Cirebon (Syekh Syarif Hidayatullah) dikerahkan untuk memerangi kerajaan Galuh Talaga, sehingga pada peperangan itu kemenangan dapat di raih oleh kerajaan Islam Cirebon.

Pada peperangan terakhir, kerajaan Islam Cirebon selain berperang dengan kerajaan Galuh Talaga juga berperang dengan kerajaan Galuh Ciamis, namun menurut cerita sebelum kerajaan Islam Cirebon menyerang kerajaan Galuh Ciamis, kerajaan Galuh Ciamis (masih satu keturunan dengan kerajaan Galuh Talaga) telah menyerah pada kerajaan Islam Cirebon, dan berikrar bahwa kerajaan Galuh Ciamis tidak akan mengganggu dan menyerang kerajaan Islam Cirebon, namun sebagai tindakan antisipasi kerajaan Islam Cirebon tetap membuat pos pertahanan daerah situ Panjalu Ciamis (Situ Lengkong).

Di perbatasan kerajaan Galuh Talaga dengan kerajaan Cirebon, serangan pasukan Prabu Jaya Diningrat dari kerajaan Galuh Talaga dihadang oleh pasukan Adipati Kuningan Suraga Jaya, sang Suraga Jaya merupakan putra dari Ki Gedeng Luragung (Jaya Raksa) anak angkat Arya Kamuning (Barata Wijaya) yang ditugaskan oleh kerajaan Cirebon agar melindungi pesantren-pesantren yang berada di perbatasan kerajaan Cirebon dengan kerajaan Galuh Talaga.

Pada masa peperangan terakhir tahun 1700 M. Pasukan Putra Sri Baduga Maha Raja (Haji Abdulah Imam) dengan pasukan putra Prabu Ningrat Kancana (Prabu Jaya Diningrat) yang dipimpin oleh Haji Abdulah Imam dan Fadilah Khan serta dibantu oleh kerajaan-kerajaan Islam lainnya termasuk Wadya Balad dari pos pertahanan di desa Darma dikerahkan untuk menyerang ke kerajaan Galuh Talaga. Pada saat itu pos pertahanan dipimpin oleh seorang ulama dari Malaka yaitu Syeh Datuk Kaliputah (Embah Damar Wulan), beliau utusan kerajaan Islam Cirebon. Suatu hari Syekh Datuk Kali Putah kedatangan utusan dari kerajaan Islam Cirebon yaitu Syekh Rama Haji Irengan dengan membawa pesan, “Katakan pada Syeh Datuk Kaliputah, bahwa kerajaan Islam Cirebon saat ini mendapat ancaman dari kerajaan Galuh Talaga dan kerajaan Galuh Ciamis.”

Pesan itu pun disampaikan oleh Syekh Rama Haji Irengan kepada Syekh Datuk Kali Putah (Embah Damar Wulan). Akhirnya Syekh Datuk Kali Putah menyiapkan pasukan untuk ikut menyerang kerajaan Galuh Talaga yang dipimpin oleh Syekh Habibullah (Embah Sapu Jagat) dengan pasukan lainnya, yaitu Embah Buyut Rangga Jaya, Embah Buyut Rangga Wisesa, Embah Buyut Rangga Wisempek, dan Embah Buyut Sudamelawi. Kelima utusan tersebut menuju suatu tempat yang berbatasan langsung dengan kerajaan Galuh Talaga dengan jarak dari desa Darma kurang lebih enam puluh kilometer naik turun gunung, Kaki Gunung Gede (Gunung Ciremai), tepatnya di Gunung Pucuk. Pasukan tersebut menyerang pasukan Galuh Talaga yang mencoba menyusup ke kerajaan Cirebon melalui kaki Gunung Gede (Gunung Ciremai).

Pertempuran pun berlangsung cukup sengit, dan berlangsung cukup lama, enam bulan lamanya. Akhirnya kelima tokoh tersebut selesai perang tidak semuanya kembali ke Darma, namun mereka ada yang menetap di kaki gunung Ciremai, ada pula yang menetap di Situ Sanghiang dan ada yang kembali ke desa Darma, yaitu Syekh Habibullah (Embah Sapu Jagat).

Sepulangnya dari peperangan Embah Sapu Jagat menetap di dusun Gunung Luhung. Luhung artinya pintar/sakti, namun karena takut dianggap terlalu sombong, akhirnya diganti nama Gunung Luhung menjadi Gunung Luhur.

Kira-kira pada tahun 1732 M. Darma sudah mulai dihuni oleh masyarakat dengan budaya dan pengaruh diambil dari kerajaan Galuh Talaga yang menganut agama Hindu. hal ini dibuktikan dengan sisa-sisa peninggalan sejarah baik seperti cerita Lutung Kasarung yang berlokasi di desa Karang Sari, desa Gunung Sirah, maupun peninggalan berupa material atau puing-puing bekas bangunan dan candi yang ditemukan di daerah Sagara Hiang.

Darma merupakan daerah di selatan pegunungan Ciremai dengan kondisi alam yang sangat indah, menghijau hamparan persawahan cukup luas, mata air mengalir dengan jernihnya, sungai berkelok mengitari setiap kampung. melintang dari timur ke barat membelah kawasan waduk Darma, sehingga menjadi salah satu daya tarik yang luar biasa, maka dalam waktu yang cepat Darma telah menjadi pusat kegiatan masyarakat yang cukup maju dan sekarang menjadi sebuah kecamatan

Sumber : radarcirebon.com/desa-darma-pos-pertahanan-terakhir-kerajaan-islam-cirebon.html
comments | | Read More...

Panduan Praktis Ajaib Al Quran Menjadi Manusia Cerdas 486x60

Pengunjung

 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use |Advertise with Us | Site map
Copyright © 2011. Seputar Kuningan . All Rights Reserved.
Design Template by Bisnis Online | Support by Catatan Kang Agus | Powered by Blogger | Link Diet Menurunkan Berat Badan