News Update :
Hot News »
Bagikan kepada teman!

Menjelang Puasa Harga Daging Terus Naik

Penulis : Desi Susanti on Sunday, June 29, 2014 | 04:04

Sunday, June 29, 2014

KUNINGAN- Satu hari menjelang puasa Ramadan harga daging ayam maupun sapi naik melejit. Kenaikan harga daging tersebut terjadi di sejumlah pasar di Kuningan.
“Hari ini (kemarin, red) harga naik Rp2.000/kg, dari semula Rp32 ribu menjadi Rp34 ribu,” ujar Hj Wati pedagang ayam di Pasar Baru Kuningan kepada Radar, Jumat (27/6). Menurutnya, harga tersebut diperkirakan akan terus mengalami kenaikan.

Sejak dua hari kemarin, lanjut dia, jumlah konsumen yang datang mengalami peningkatan dan masa puncak diprediksi akan terjadi pada Sabtu (hari ini). Ia sendiri sebagai pedagang sudah mempersiapkan stok lebih banyak dari hari biasa. “Kalau munggahan (jelang puasa, red) itu konsumen yang datang lebih banyak daripada hari-hari biasa. Orang yang tidak punya pun akan membeli ayam,” jelasnya.

Sementara Idung Wijaya, penjual daging sapi, membenarkan telah terjadi peningkatan penjualan hingga lima persen. Mengenai harga daging sapi menurutnya, mengalami kenaikan hingga Rp95 ribu-Rp100 ribu. Harga semula di kisaran Rp90 ribu-Rp92 ribu. “Saya tidak bisa menjamin besok harga berapa, karena kan besok munggahan. Bisa saja melibihi harga hari ini jadi tergangtung besok,” ucapnya.

Hari yang berada di los depan Idung menambahkan, jumlah pengunjung pada Sabtu dipastikan membeludak. Menurutnya, karena sudah menjadi kebiasaan warga setiap sahur pertama menyantap hidangan lezat. “Kalau munggahan itu daging yang paling laris. Begitu juga mau Lebaran,” jelas dia.

Berbeda dengan daging, harga sayuran justru masih stabil. Faktor harga belum naik karena permitaan tidak sebanyak daging, serta stok masih berlimpah.

“Kalau sayuran itu normal, soalnya konsumen memburu daging. Tapi saya juga tidak bisa menjamin besok harga normal. Bisa saja karena ingin mengikuti munggahan harga ikut naik,” ucap Acuy salah seorang penjual sayuran di Pasar Baru. Acuy merinci, saat ini harga kentang Rp10 ribu, tomat Rp7.000, kol Rp4.000, cabai merah Rp15 ribu. Kemudian cabai rawit Rp14 ribu, wortel Rp7.000, dan bonteng Rp4.000.

Pantauan Radar, jumlah pengunjung ke Pasar Baru yang rencananya bangunan baru tersebut akan diresmikan awal Juli mengalami peningkatan. Dengan bangunan yang baru pengunjung terlihat lebih nyaman dalam berbelanja.
comments | | Read More...

Kuningan Tidak Menerima CPNS Jalur Umum

Penulis : Desi Susanti on Thursday, June 26, 2014 | 16:05

Thursday, June 26, 2014

KUNINGAN – Meski tahun 2014 pemerintah mengalokasikan 100 ribu kursi untuk CPNS jalur umum, namun Kuningan tidak akan meminta kuota tersebut. Karena jumlah PNS di Kuningan yang sudah lebih dari cukup.

Bukan hanya itu, masih banyaknya jumlah kategori dua yang belum lulus menjadi pertimbangan lain Kuningan tidak menerima CPNS jalur umum. Hingga saat ini jumlah PNS di Kuningan kurang lebih mencapai 16 ribu.

“Kemunginan besar kita tidak akan mengajukan. Jumlah yang ada juga masih banyak. Bukan tidak kasihan kepada pelamar umum, namun memang situasinya saat ini belum tepat,” ucap Kepala BKD Kuningan Drs Uca Somantri kepada Radar, akhir pekan kemarin.

Mantan kadis Koperasi dan UKM ini menerangkan, faktor utama yang membuat Kuningan tidak bisa mengajukan kuota adalah belanja pegawai yang masih di atas 50 persen. Seandainya Kuningan tidak di atas 50 persen bisa mengajukan kuota CPNS. Menurut dia, dengan kondisi seperti itu jika dipaksakan akan memberatkan APBD.

Sementara mengenai penyerahan SK CPNS bagi honorer K2 hingga saat ini belum ada kabar kapan akan diserahkan. Dari informasi yang diperolehnya SK CPNS tengah diproses. “Selain yang menanyakan perekrutan CPNS dari jalur umum. Kami juga selalu ditanya mengenai kapan SK diberikan, bahkan boleh dibilang setiap hari,” jelas Uca.

Uca sendiri mengingingkan SK segera diserahkan agar cepat kelar. Dengan begitu pihaknya bisa fokus dengan permasalah yang lain. Sebab, mengenai penyerahan SK menjadi hal yang ditunggu-tunggu.

Sebelumnya, Kepala Biro Hukum, Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN-RB) Herman Suryatman mengatakan, saat ini tim panitia seleksi nasional (panselnas) masih melakukan penetapan formasi untuk setiap instansi. Rencana awal untuk pendaftaran CPNS 2014 pada bulan Juni pun harus mundur hingga Juli. “Pada awal Juli, akan diumumkan formasi tiap masing-masing instansi. Untuk pendaftaran online, rencananya akan mulai dibuka pada minggu ketiga dan keempat bulan Juli,” ujar Herman kepada JPNN (Radar Cirebon Group).

Sehingga, lanjut dia, tes seleksi CPNS 2014 akan mulai digelar serentak, baik pusat maupun daerah, pada minggu pertama di bulan Agustus.

Herman menuturkan, tahun ini ada 100 ribu kursi yang telah dialokasikan untuk CPNS pemerintah pusat dan daerah. Formasinya, 60 ribu untuk pegawai negeri sipil (PNS) dan sisanya, 40 ribu, untuk jatah pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K).

Pada tes CPNS tahun ini sendiri ada sesuatu yang istimewa. Pemerintah memberikan jatah 5 persen atau 5 ribu kursi dari 100 ribu kursi tersebut untuk pelamar dari berbagai disiplin ilmu. “Selama ini kan pengisiannya (kursi CPNS, red) sangat kaku. Hanya terpaku pada disiplin ilmu yang ada di ijazah. Ini reformasi birokrasi,” tuturnya.

Sementara untuk pengadaan tes pada Agustus mendatang, secara keseluruhan akan dilakukan dengan menggunakan sistem computer assisted test (CAT). Herman menuturkan, penggunaan CAT akan diwajibkan untuk semua instansi baik pusat dan daerah.

Bagi daerah yang masih belum memadai infrastrukturnya, Kemen PAN-RB akan berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) untuk meminjam laboratorium dinas pendidikan dan kebudayaan (dispendik) daerah. “Kita optimalkan lewat Kemendikbud. Setiap dinas kan sudah memiliki lab komputer untuk uji kompetensi guru, kita akan meminjam itu,” jelasnya.

Namun, untuk antisipasi, pihaknya tetap akan menyiapkan lembar jawaban komputer (LJK) saat ujian berlangsung. “Tentu semuanya harus ada plan B, harus ada antisipasi,” tutupnya.

Sumber:www.radarcirebon.com
comments | | Read More...

Tarling

Penulis : Desi Susanti on Saturday, June 21, 2014 | 09:21

Saturday, June 21, 2014

Tarling adalah salah satu jenis musik yang populer di wilayah pesisir pantai utara (pantura) Jawa Barat, terutama wilayah Indramayu dan Cirebon. Nama tarling diidentikkan dengan nama instrumen itar (gitar) dan suling (seruling) serta istilah Yen wis mlatar gage eling (Andai banyak berdosa segera bertaubat). Asal-usul tarling mulai muncul sekitar tahun 1931 di Desa Kepandean, Kecamatan/Kabupaten Indramayu.  Alunan gitar dan suling bambu yang menyajikan musik Dermayonan dan Cerbonan itu pun mulai mewabah sekitar dekade 1930-an. Kala itu, anak-anak muda di berbagai pelosok desa di Indramayu dan Cirebon, menerimanya sebagai suatu gaya hidup. Trend yang disukai dan populer, di jondol atau ranggon* anak muda suka memainkannya, seni musik ini mulai digandrungi. Pada 1935, alunan musik tarling juga dilengkapi dengan kotak sabun yang berfungsi sebagai kendang, dan kendi sebagai gong. Kemudian pada 1936, alunan tarling dilengkapi dengan alat musik lain berupa baskom dan ketipung kecil yang berfungsi sebagai perkusi.

Sugra dan teman-temannya pun sering diundang untuk manggung di pesta-pesta hajatan, meski tanpa honor. Biasanya, panggung itu pun hanya berupa tikar yang diterangi lampu petromaks (saat malam hari). Tak berhenti sampai di situ, Sugra pun melengkapi pertunjukkan tarlingnya dengan pergelaran drama. Adapun drama yang disampaikannya itu berkisah tentang kehidupan sehari-hari yang terjadi di tengah masyarakat. Akhirnya, lahirlah lakon-lakon seperti Saida-Saeni, Pegat-Balen, maupun Lair-Batin yang begitu melegenda hingga kini. Bahkan, lakon Saida-Saeni yang berakhir tragis, selalu menguras air mata para penontonnya.

Namun yang pasti, nama tarling saat itu belum digunakan sebagai jenis aliran musik. Saat itu nama yang digunakan untuk menyebut jenis musik ini adalah Melodi Kota Ayu untuk wilayah Indramayu dan Melodi Kota Udang untuk wilayah Cirebon. Dan nama tarling baru diresmikan saat RRI sering menyiarkan jenis musik ini dan oleh Badan Pemerintah Harian (saat ini DPRD) pada tanggal 17 Agustus 1962 meresmikan nama Tarling sebagai nama resmi jenis musiknya.

Tapi satu hal yang pasti, seni tarling saat ini meskipun telah hampir punah. Namun demikian, tarling selamanya tidak akan bisa dipisahkan dari sejarah masyarakat pesisir pantura. Dikarenakan tarling adalah jiwa mereka, dengan ikut sawer keatas panggung atau sekedar melihatnya, dan mendengarnya seolah mampu menghilangkan beratnya beban hidup yang menghimpit. Lirik lagu maupun kisah yang diceritakan di dalamnya, juga mampu memberikan pesan moral yang mencerahkan dan menghibur.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Tarling
comments | | Read More...

Berwisata Ke Curug Bangkong

Penulis : Desi Susanti on Tuesday, June 10, 2014 | 11:08

Tuesday, June 10, 2014

Curug Bangkong memiliki ketinggian 23 meter dengan lebar sekitar 3 meter.  Daya tarik utama Curug ini terletak bila musim hujan tiba, dimana debit airnya akan membesar, menciptakan air terjun yang terbelah menjadi dua.

Selain di balik keindahan fenomena di atas, ternyata ada hal yang lain berupa cerita-cerita dari 'dunia lain' yang selalu mewarnai keberadaannya.  Kabarnya, banyak pengunjung datang ke curug ini tak sekedar melancong, tapi untuk tujuan lain, seperti mencari berkah dan berburu kesaktian.

Legenda

Menurut cerita dari mulut ke mulut, dahulu kala, ada seorang tua bernama Wiria, berasal dari Ciamis. Ia seorang pertapa, yang sedang berkelana. Secara tak sengaja ia menemukan sebuah air terjun atau curug dalam bahasa Sunda. Ketika itulah batinnya merasa terpanggil oleh kekuatan gaib yang ada di sekitar curug. Wiria yakin itulah tempat yang tepat untuk melakukan ‘tirakatnya’. Pun ia yakin bila di tempat itu pula ia akan dapat ilafat.

Disela-sela tirakat panjangnya, pria berpostur tinggi besar ini menyempatkan diri bergaul dengan masyarakat. Tak hanya itu. Ia pun mendidik masyarakat setempat tata cara membuat gula kawung (gula merah), yang bahan mentahnya melimpah di lingkungan sekitar.  Dengan setia pula masyarakat setempat mengikuti ajaran Wira.  Sehingga dalam waktu singkat, hampir seluruh penduduk desa pandai membuat gula kawung.  Lama-lama pekerjaan itu menjadi mata pencaharian mereka.

Seiring dengan itu, nama Wiria menjadi tokoh yang disegani.  Masyarakat memanggilnya Abah Wiria sebagai bentuk penghormatan.  Suatu masa, kembali Wiria mendapat panggilan batin untuk melanjutkan tirakatnya.  Ia pun kembali ke areal curug.  Konon menurut cerita, Abah Wiria melakukan tapa bratanya itu di balik air terjun, dimana disinyalir di balik air terjun itu ada sebuah gua atau lubang tempat Abah Wiria melakukan semadinya.

Berhari-hari bahkan berbulan-bulan Abah Wiria berada di sana.  Masyarakat merasa kehilangan seorang tokoh yang selama ini membimbing mereka.  Mereka khawatir terjadi sesuatu dengan tokoh yang berjasa tersebut.

Teka-teki keberadaan Abah Wiria pun merebak ke antero desa.  Warga lantas berinisiatif mencarinya, akan tetapi sosok Abah Wiria tak kunjung ditemukan.  Dugaan bila Abah Wiria menghilang (moksa) karena telah sempurna melaksanakan ritual tapa bratanya.

Banyak yang menyakini bila tubuh orang tua itu telah menjelma menjadi seekor Bangkong (kodok).  Hal itu lantaran sepeninggal Abah Wiria, disekitar air terjun itu sering terdengar suara kodok.  Padahal selama ini, jarang warga disitu mendengar ada suara kodok dan anehnya ketika suara kodok itu didekati tiba-tiba menghilang.

Berdasarkan dugaan itu, akhirnya air terjun itu diberi nama Curug Bangkong. Dalam perkembangannya bila seseorang mengikuti jejak Abah Wiria bertapa disekitar Curig Bangkong, pastinya akan disambut suara kodok.  Nah bila itu yang terjadi, konon sesorang akan bernasib baik, doanya akan dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.

Sumber:sites.google.com
comments | | Read More...

SK Pensiun Di Terima Oleh 102 PNS

Badan Kepegawaian Daerah Kuningan menggelar kegiatan penyerahan keputusan pemberhentian Pegawai Negeri Sipil yang memasuki masa purna bhakti bulan Juli sampai dengan Desember 2014 di lingkungan Pemkab Kuningan.Kegiatan yang diikuti oleh 102 pegawai negeri tersebut dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kab.Kuningan Drs.Yosep Setiawan,M.Si, Kepala BKD Kuningan Drs.Uca Somantri, dan PT.Taspen.Bertempat di Wisma Permata Kuningan, Kamis/5 Juni 2014.

Sekretaris Daerah Kuningan Yosep mengatakan, ucapan terima kasih serta penghargaan yang tinggi kepada para PNS yang memasuki masa pension tersebut karna telah mengabdi kepada Negara selama 60 tahun, dan menjadi PNS itu tidak selamanya akan tetapi ada batas waktu yang telah ditentukan oleh aturan yang ada yaitu hanya sampai pada usia 60 tahun.Terlebih saat ini telah ada Undang-Undang ASN Dengan berlakunya UU Nomor 4 Tahun 2014 tentang ASN ini, pegawai negeri sipil (PNS) yang pensiun per Februari 2014 otomatis diperpanjang dua tahun.

Sementara itu kepala Bidang kesejahteraan Pegawai dan Pensiun Erni Marfuah Jamilah ,SS menjelaskan mengenai tujuan kegiatan tersebut yaitu untuk mengoptimalkan pengadaan kepada PNS yang ada di lingkungan Pemkab Kuningan.Dari 102 PNS tersebut, yang telah diproses Sk nya sebanyak 98 orang, dan 14 orang masih dalam proses terkait dengan kelengkapan berkas yang belum lengkap.

Sumber : www.kuningankab.go.id 
comments | | Read More...

Desa Darma ‘Pos Pertahanan Terakhir’ Kerajaan Islam Cirebon

Penulis : Desi Susanti on Saturday, May 24, 2014 | 12:35

Saturday, May 24, 2014

PADA mulanya Desa Darma bukanlah merupakan desa, saat itu tak lebih sekedar suatu tempat yang dijadikan sebagai pos pertahanan kerajaan Islam Cirebon, untuk menyerang kerajaan Galuh Talaga dan kerajaan Galuh Ciamis. Desa Darma memiliki luas 91.58 km2 terdiri atas 5 dusun ini, terletak di sebelah Utara Kecamatan Cigugur, sebelah Selatan Kabupaten Ciamis, sebelah Timur Kecamatan Nusaherang, Kadugede dan Hantara, sebelah Barat Kabupaten Majalengka.

Penelusuran jejak desa ini, diperkirakan terjadi mulai tahun 1528 M, sebagai pos pertahanan pada pertempuran terakhir kerajaan Islam Cirebon, peperangan dengan kerajaan Galuh Talaga yang berlangsung selama kurun waktu 5 tahun dan 5 kali pertempuran. Segenap kekuatan kerajaan Islam di nusantara seperti kerajaan Islam dari Sumatera, Malaka, Banten dan Dari Demak oleh kerajaan Cirebon (Syekh Syarif Hidayatullah) dikerahkan untuk memerangi kerajaan Galuh Talaga, sehingga pada peperangan itu kemenangan dapat di raih oleh kerajaan Islam Cirebon.

Pada peperangan terakhir, kerajaan Islam Cirebon selain berperang dengan kerajaan Galuh Talaga juga berperang dengan kerajaan Galuh Ciamis, namun menurut cerita sebelum kerajaan Islam Cirebon menyerang kerajaan Galuh Ciamis, kerajaan Galuh Ciamis (masih satu keturunan dengan kerajaan Galuh Talaga) telah menyerah pada kerajaan Islam Cirebon, dan berikrar bahwa kerajaan Galuh Ciamis tidak akan mengganggu dan menyerang kerajaan Islam Cirebon, namun sebagai tindakan antisipasi kerajaan Islam Cirebon tetap membuat pos pertahanan daerah situ Panjalu Ciamis (Situ Lengkong).

Di perbatasan kerajaan Galuh Talaga dengan kerajaan Cirebon, serangan pasukan Prabu Jaya Diningrat dari kerajaan Galuh Talaga dihadang oleh pasukan Adipati Kuningan Suraga Jaya, sang Suraga Jaya merupakan putra dari Ki Gedeng Luragung (Jaya Raksa) anak angkat Arya Kamuning (Barata Wijaya) yang ditugaskan oleh kerajaan Cirebon agar melindungi pesantren-pesantren yang berada di perbatasan kerajaan Cirebon dengan kerajaan Galuh Talaga.

Pada masa peperangan terakhir tahun 1700 M. Pasukan Putra Sri Baduga Maha Raja (Haji Abdulah Imam) dengan pasukan putra Prabu Ningrat Kancana (Prabu Jaya Diningrat) yang dipimpin oleh Haji Abdulah Imam dan Fadilah Khan serta dibantu oleh kerajaan-kerajaan Islam lainnya termasuk Wadya Balad dari pos pertahanan di desa Darma dikerahkan untuk menyerang ke kerajaan Galuh Talaga. Pada saat itu pos pertahanan dipimpin oleh seorang ulama dari Malaka yaitu Syeh Datuk Kaliputah (Embah Damar Wulan), beliau utusan kerajaan Islam Cirebon. Suatu hari Syekh Datuk Kali Putah kedatangan utusan dari kerajaan Islam Cirebon yaitu Syekh Rama Haji Irengan dengan membawa pesan, “Katakan pada Syeh Datuk Kaliputah, bahwa kerajaan Islam Cirebon saat ini mendapat ancaman dari kerajaan Galuh Talaga dan kerajaan Galuh Ciamis.”

Pesan itu pun disampaikan oleh Syekh Rama Haji Irengan kepada Syekh Datuk Kali Putah (Embah Damar Wulan). Akhirnya Syekh Datuk Kali Putah menyiapkan pasukan untuk ikut menyerang kerajaan Galuh Talaga yang dipimpin oleh Syekh Habibullah (Embah Sapu Jagat) dengan pasukan lainnya, yaitu Embah Buyut Rangga Jaya, Embah Buyut Rangga Wisesa, Embah Buyut Rangga Wisempek, dan Embah Buyut Sudamelawi. Kelima utusan tersebut menuju suatu tempat yang berbatasan langsung dengan kerajaan Galuh Talaga dengan jarak dari desa Darma kurang lebih enam puluh kilometer naik turun gunung, Kaki Gunung Gede (Gunung Ciremai), tepatnya di Gunung Pucuk. Pasukan tersebut menyerang pasukan Galuh Talaga yang mencoba menyusup ke kerajaan Cirebon melalui kaki Gunung Gede (Gunung Ciremai).

Pertempuran pun berlangsung cukup sengit, dan berlangsung cukup lama, enam bulan lamanya. Akhirnya kelima tokoh tersebut selesai perang tidak semuanya kembali ke Darma, namun mereka ada yang menetap di kaki gunung Ciremai, ada pula yang menetap di Situ Sanghiang dan ada yang kembali ke desa Darma, yaitu Syekh Habibullah (Embah Sapu Jagat).

Sepulangnya dari peperangan Embah Sapu Jagat menetap di dusun Gunung Luhung. Luhung artinya pintar/sakti, namun karena takut dianggap terlalu sombong, akhirnya diganti nama Gunung Luhung menjadi Gunung Luhur.

Kira-kira pada tahun 1732 M. Darma sudah mulai dihuni oleh masyarakat dengan budaya dan pengaruh diambil dari kerajaan Galuh Talaga yang menganut agama Hindu. hal ini dibuktikan dengan sisa-sisa peninggalan sejarah baik seperti cerita Lutung Kasarung yang berlokasi di desa Karang Sari, desa Gunung Sirah, maupun peninggalan berupa material atau puing-puing bekas bangunan dan candi yang ditemukan di daerah Sagara Hiang.

Darma merupakan daerah di selatan pegunungan Ciremai dengan kondisi alam yang sangat indah, menghijau hamparan persawahan cukup luas, mata air mengalir dengan jernihnya, sungai berkelok mengitari setiap kampung. melintang dari timur ke barat membelah kawasan waduk Darma, sehingga menjadi salah satu daya tarik yang luar biasa, maka dalam waktu yang cepat Darma telah menjadi pusat kegiatan masyarakat yang cukup maju dan sekarang menjadi sebuah kecamatan

Sumber : radarcirebon.com/desa-darma-pos-pertahanan-terakhir-kerajaan-islam-cirebon.html
comments | | Read More...

Waduk Darma

Penulis : Desi Susanti on Friday, May 23, 2014 | 17:19

Friday, May 23, 2014

Waduk Darma adalah sebuah danau buatan yang terletak di Desa Jagara, Kecamatan Darma. Dari Kota Kuningan jaraknya sekitar 12 kilometer. Sedangkan, dari kota Cirebon jaraknya sekitar 37 kilometer. Waduk yang mempunyai luas sekitar 425 ha dan kapasitas maksimal airnya mencapai sekitar 39.000.000 m3 ini mulai dibangun sekitar tahun 1958. Untuk mewujudkan waduk ini, ada sekitar delapan desa yang ditenggelamkan.

Fungsi

Pasokan air di Waduk Darma berasal dari beberapa sungai kecil di sekitar Kabupaten Kuningan, seperti Sungai Cinangka dan Sungai Cisalak. Setelah terkumpul di waduk, air tersebut sebagian digunakan untuk irigasi sawah sampai ke Kabupaten Cirebon dan sebagian lagi digunakan untuk kebutuhan air minum oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di kota Kuningan dan di sekitar Kota Cirebon.

Selain berfungsi sebagai penampung air, Waduk Darma juga dijadikan sebagai sarana rekreasi dan olahraga. Panorama di sekitar waduk, terutama pada saat matahari akan tenggelam, menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang datang ke waduk itu. Apalagi bila menikmatinya sambil duduk di perahu yang mengelilingi pulau mungil bernama Munjul Goong yang ada di tengah-tengah waduk.

Namun,obyek wisata ini belum bisa memberikan kontribusi yang berarti terhadap pendapatan asli daerah Kabupaten Kuningan, karena tidak banyak memiliki fasilitas hiburan dan tempat bermain. Saat ini baru tersedia tempat duduk untuk menikmati udara dan pemandangan di sekitar waduk, areal camping, kolam renang bagi anak-anak, perahu motor, dan cottage.

Apabila fasilitas hiburan dan tempat bermain ditambah dan atau diperbaiki, bukan tidak mungkin pengunjung di Waduk Darma akan bertambah beberapa kali lipat dari sekitar 3000 orang perminggunya. Dengan penambahan beberapa fasilitas hiburan, maka pemasukan dana pun bukan hanya dari retribusi masuk saja, tetapi juga dari fasilitas-fasilitas tersebut. Dan, hal ini tentu saja akan meningkatkan pendapatan asli daerah, sama seperti tempat-tempat wisata lainnya di Kuningan.

Sumber : http://uun-halimah.blogspot.com/2008/08/waduk-darma-kuningan-jawa-barat.html
comments | | Read More...

Pengunjung

 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use |Advertise with Us | Site map
Copyright © 2011. Seputar Kuningan . All Rights Reserved.
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger | Link Diet Menurunkan Berat Badan