News Update :
Hot News »
Bagikan kepada teman!

Muka Lampit Tempat Pesugihan

Penulis : Desi Susanti on Wednesday, August 20, 2014 | 10:22

Wednesday, August 20, 2014

Muka lampit adalah sebutan untuk sebuah pohon besar yang berada di Desa Ciniru Kecamatan jalaksana Kabupaten Kuningan. Pohon yang berdekatan dengan lokasi sumber mata air panas itu, dijadikan tempat pemujaan oleh banyak orang yang meyakini hal itu.
 
Tempat itu dianggap keramat dan dipercaya dijaga oleh makhluk gaib yang sering dikenal dengan sebutan Sikesih oleh warga sekitar.
 
“Sikesih itu nama Jin penunggu pohon besar itu, dia yang dipercaya mengabulkan apa yang kita minta,”kata Abah Empng, Kuncen muka lampit, Senin (21/4/2014).
 
Lanjut Empong, Ia sering mengantar tamu yang datang untuk melakukan pemujaan di muka lampit, dengan berbagai macam keinginan.
 
“Yang datang kesini itu banyak, dan yang paling banyak itu dari luar Kuningan. Banyak keinginan dari pada tamu yang datang, contohnya ada yang pengen kaya, ada yang pengen naek jabatan juga,”tuturnya.
Masih menurut Empong, Jin penunggu muka lampit itu masih besaudara dengan Jin penunggu sumber mata air panas Ciniru yang berwujud pencampuran dari manusia dan ular, yang sering dikenal dengan sebutan Nyai Wulandari.(


Sumber Berita: www.kuningannews.com.com

comments | | Read More...

Honorer K2 BTL Bertambah

Penulis : Desi Susanti on Tuesday, August 12, 2014 | 11:40

Tuesday, August 12, 2014

KUNINGAN – Honorer K2 lolos CPNS yang harus melengkapi berkas bertambah 50 orang. Sebelumnya
pada hari Selasa lalu (5/8) sebanyak 290 orang.

Pihak BKD Kuningan sendiri langsung memberitahu K2 susulan tersebut dengan cara menghubungi via telepon satu persatu untuk segera melengkapi berkas sesuai dengan K2 yang berjumlah 290. Dengan adanya penambahan ini berarti ada 340 K2 yang dinyatakan berkas tidak lengkap (BTL).

“Awalnya hanya 41 K2 yang BTL namun ternyata ada informasi susulan yang dikirim via email dimana ada 50 orang, sehingga total 340 orang,” ucap Kepala BKD Drs Uca Somantri MSi melalui Kabid Pengembangan Karir Drs Ade Priatna, Minggu (10/9).

Ade berharap yang 50 orang ini segera melengkapi berkas yang belum lengkap, sehingga bisa diberikan kembali kepada pihak Kantor Regional III BKN. Mengenai jumlah yang sisa 183 orang pihak tidak menjamin apakah sudah aman atau harus melengkapi seperti yang berjumlah 340 orang.
“Kami hanya menyampaikan saja informasi dari BKN. Jadi kalau ditanya apakah yang sisa bisa disebut aman? Belum tentu” jelasnya.

Diterangkan, seperti yang berjumlah 290, yang berjumlah 50 orang juga kekurangan berkas secara umum disebabkan dari bukti pengangkatan sebagai tenaga honorer yang tidak memenuhi kriteria. Hal ini dikarenakan Kantor Regional III BKN menetapkan bukti pengangkatan tenaga honorer harus berbentuk keputusan bukan berupa surat keterangan, surat tugas, surat perintah, pembagian tugas atau dalam bentuk lain.

Lanjut dia, keputusan tentang pengangkatan sebagai tenaga honorer dimaksud harus diterbitkan tiap tahun tanpa terkecuali. Kekurangan berkas dimaksud bisa dilengkapi dengan cara membuat surat pernyataan melaksanakan tugas secara terus menerus bermaterai Rp6.000, yang ditandatangani langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Kuningan.

“Pembuatan surat pernyataan sekretaris daerah dibuat secara kolektif melalui pengelola kepegawaian masing-masing unit kerja secara hirarki, seperti UPTD dan sekolah tetap harus diserahkan secara kolektif melalui instansi induknya,” tandas Ade kepada Radar, kemarin

Dikatakan, para atasan langsung harus melakukan verifikasi ulang terhadap bukti-bukti pengangkatan tenaga honorer kategori II, karena dalam surat pernyataan sekretaris daerah harus disertai dengan alasan secara jelas.

Menurut dia, bagi K2 yang ingin mendapatkan NIP (nomor induk pegawai) harus melengkapi 18 berkas yang sudah ditentukan. Satu dari 18 itu tidak bisa dilengkapi maka mereka gugur.

“Kami berharap K2 yang masuk kategori BTL segera melengkapi dan cepat menyerahkan agar proses pemberkasan cepat selesai,” jelas Ade.
comments | | Read More...

17 Pendaki Gunung Ciremai DI Evakuasi

KUNINGAN – Sebanyak 17 orang pendaki dari Sukabumi dan Jakarta terpaksa dievakuasi dari Gunung Ciremai oleh Tim SAR dan Tim Rangger (RC Linggajati), Sabtu (9/8) setelah mereka terjebak. Mereka terpaksa dijemput karena mengalami kelelahan dan juga persediaan logistik yang sudah habis.
Dari informasi, ke 17 pendaki itu berasal dari dua kelompok yakni 13 orang dari Sukabumi yang semuanya berjenis kelamin laki-laki dan empat orang berasal dari Jakarta. Rombongan dari Jakarta ini terdiri dari 3 perempuan dan satu laki-laki.

Mereka naik ke gunung tertinggi di Jabar itu pada hari Kamis (7/8) melalui pos pendakian Linggajati. Penyebab mereka terjebak tidak bisa turun berbeda-beda. Namun lokasi mereka terjebak berdekatan, di mana dari rombongan Sukabumi di Pos Pengasinan. Sedangkan dari Jakarta di Pos Ranggabuana di ketinggian 2.800 Mdpl.

Rombongan Jakarta sendiri dijadwalkan berada di gunung selama dua hari sehingga hari Sabtu mereka sudah turun. Namun meski cadangan logistik untuk dua hari, mereka malah menambah waktu hingga Sabtu sehingga akan turun pada hari Minggu.

Kondisi ini tentu membuat mereka dalam bahaya karena tidak ada makanan, sehingga mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan untuk turun gunung. Sementara di pos pendakian lain rombongan Jakarta tidak bisa pulang karena satu orang mengalami cedera kaki, kemudian satu lagi mengalami hiportemia (kedinginan) dan kelelahan.

Untungnya yang satu orang berjenis kelamin pria tidak mengalami apa-apa. Namun, karena harus mengurus tiga orang akhirnya kerepotan juga. Berbeda dengan tim dari Sukabumi, rombongan dari ibu kota ini untuk logistik tersedia cukup banyak sehingga mereka bisa membantu romobongan dari Jakarta.
Karena tidak bisa melanjutkan perjalanan mereka meminta pertolongan. Dan akhirnya pada Sabtu pagi sekitar jam 10.00 WIB mereka dijemput oleh tim Rangger. Sesaat kemudian tim SAR yang berjumlah enam orang kembali menjemput.

Sekitar jam 13.00 WIB ke 17 pendaki tersebut berhasil dievakuasi dari gunung dengan kondisi semua selamat. Setelah melalui perawatan pada jam 18.00 WIB kedua rombongan tersebut pulang ke tempat masing-masing.

“Iya terjebak, dan alhamdulillah semua dalam kondisi sehat. Setelah mendapatkan laporan langsung, kami bergerak cepat dan akhirnya semua terselamatkan,” ucap Manajer Unit Cibunar Linggajati Septian Adi kepada Radar, Minggu (10/8).

Pria yang dipanggil Adi itu mengakui, bahwa kedua rombongan itu kebanyakan baru pertama kali naik gunung. Ketika mereka naik gunung, pihaknya pun sudah memberikan arahan sesuai dengan ketentuan ketika pendaki mau mendaki. Namun, karena ada yang dilanggar sehingga mereka seperti itu. Untuk rombongan Jakarta karena kondisi fisik yang tidak memadai.

“Kami berharap kejadian ini menjadi pembelajaran bagi para pendaki sehingga mereka benar-benar harus disiplin dan juga kondisi fisik harus siap,” jelasnya

Sumber : http://www.radarcirebon.com
comments | | Read More...

Menjelang Puasa Harga Daging Terus Naik

Penulis : Desi Susanti on Sunday, June 29, 2014 | 04:04

Sunday, June 29, 2014

KUNINGAN- Satu hari menjelang puasa Ramadan harga daging ayam maupun sapi naik melejit. Kenaikan harga daging tersebut terjadi di sejumlah pasar di Kuningan.
“Hari ini (kemarin, red) harga naik Rp2.000/kg, dari semula Rp32 ribu menjadi Rp34 ribu,” ujar Hj Wati pedagang ayam di Pasar Baru Kuningan kepada Radar, Jumat (27/6). Menurutnya, harga tersebut diperkirakan akan terus mengalami kenaikan.

Sejak dua hari kemarin, lanjut dia, jumlah konsumen yang datang mengalami peningkatan dan masa puncak diprediksi akan terjadi pada Sabtu (hari ini). Ia sendiri sebagai pedagang sudah mempersiapkan stok lebih banyak dari hari biasa. “Kalau munggahan (jelang puasa, red) itu konsumen yang datang lebih banyak daripada hari-hari biasa. Orang yang tidak punya pun akan membeli ayam,” jelasnya.

Sementara Idung Wijaya, penjual daging sapi, membenarkan telah terjadi peningkatan penjualan hingga lima persen. Mengenai harga daging sapi menurutnya, mengalami kenaikan hingga Rp95 ribu-Rp100 ribu. Harga semula di kisaran Rp90 ribu-Rp92 ribu. “Saya tidak bisa menjamin besok harga berapa, karena kan besok munggahan. Bisa saja melibihi harga hari ini jadi tergangtung besok,” ucapnya.

Hari yang berada di los depan Idung menambahkan, jumlah pengunjung pada Sabtu dipastikan membeludak. Menurutnya, karena sudah menjadi kebiasaan warga setiap sahur pertama menyantap hidangan lezat. “Kalau munggahan itu daging yang paling laris. Begitu juga mau Lebaran,” jelas dia.

Berbeda dengan daging, harga sayuran justru masih stabil. Faktor harga belum naik karena permitaan tidak sebanyak daging, serta stok masih berlimpah.

“Kalau sayuran itu normal, soalnya konsumen memburu daging. Tapi saya juga tidak bisa menjamin besok harga normal. Bisa saja karena ingin mengikuti munggahan harga ikut naik,” ucap Acuy salah seorang penjual sayuran di Pasar Baru. Acuy merinci, saat ini harga kentang Rp10 ribu, tomat Rp7.000, kol Rp4.000, cabai merah Rp15 ribu. Kemudian cabai rawit Rp14 ribu, wortel Rp7.000, dan bonteng Rp4.000.

Pantauan Radar, jumlah pengunjung ke Pasar Baru yang rencananya bangunan baru tersebut akan diresmikan awal Juli mengalami peningkatan. Dengan bangunan yang baru pengunjung terlihat lebih nyaman dalam berbelanja.
comments | | Read More...

Kuningan Tidak Menerima CPNS Jalur Umum

Penulis : Desi Susanti on Thursday, June 26, 2014 | 16:05

Thursday, June 26, 2014

KUNINGAN – Meski tahun 2014 pemerintah mengalokasikan 100 ribu kursi untuk CPNS jalur umum, namun Kuningan tidak akan meminta kuota tersebut. Karena jumlah PNS di Kuningan yang sudah lebih dari cukup.

Bukan hanya itu, masih banyaknya jumlah kategori dua yang belum lulus menjadi pertimbangan lain Kuningan tidak menerima CPNS jalur umum. Hingga saat ini jumlah PNS di Kuningan kurang lebih mencapai 16 ribu.

“Kemunginan besar kita tidak akan mengajukan. Jumlah yang ada juga masih banyak. Bukan tidak kasihan kepada pelamar umum, namun memang situasinya saat ini belum tepat,” ucap Kepala BKD Kuningan Drs Uca Somantri kepada Radar, akhir pekan kemarin.

Mantan kadis Koperasi dan UKM ini menerangkan, faktor utama yang membuat Kuningan tidak bisa mengajukan kuota adalah belanja pegawai yang masih di atas 50 persen. Seandainya Kuningan tidak di atas 50 persen bisa mengajukan kuota CPNS. Menurut dia, dengan kondisi seperti itu jika dipaksakan akan memberatkan APBD.

Sementara mengenai penyerahan SK CPNS bagi honorer K2 hingga saat ini belum ada kabar kapan akan diserahkan. Dari informasi yang diperolehnya SK CPNS tengah diproses. “Selain yang menanyakan perekrutan CPNS dari jalur umum. Kami juga selalu ditanya mengenai kapan SK diberikan, bahkan boleh dibilang setiap hari,” jelas Uca.

Uca sendiri mengingingkan SK segera diserahkan agar cepat kelar. Dengan begitu pihaknya bisa fokus dengan permasalah yang lain. Sebab, mengenai penyerahan SK menjadi hal yang ditunggu-tunggu.

Sebelumnya, Kepala Biro Hukum, Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN-RB) Herman Suryatman mengatakan, saat ini tim panitia seleksi nasional (panselnas) masih melakukan penetapan formasi untuk setiap instansi. Rencana awal untuk pendaftaran CPNS 2014 pada bulan Juni pun harus mundur hingga Juli. “Pada awal Juli, akan diumumkan formasi tiap masing-masing instansi. Untuk pendaftaran online, rencananya akan mulai dibuka pada minggu ketiga dan keempat bulan Juli,” ujar Herman kepada JPNN (Radar Cirebon Group).

Sehingga, lanjut dia, tes seleksi CPNS 2014 akan mulai digelar serentak, baik pusat maupun daerah, pada minggu pertama di bulan Agustus.

Herman menuturkan, tahun ini ada 100 ribu kursi yang telah dialokasikan untuk CPNS pemerintah pusat dan daerah. Formasinya, 60 ribu untuk pegawai negeri sipil (PNS) dan sisanya, 40 ribu, untuk jatah pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K).

Pada tes CPNS tahun ini sendiri ada sesuatu yang istimewa. Pemerintah memberikan jatah 5 persen atau 5 ribu kursi dari 100 ribu kursi tersebut untuk pelamar dari berbagai disiplin ilmu. “Selama ini kan pengisiannya (kursi CPNS, red) sangat kaku. Hanya terpaku pada disiplin ilmu yang ada di ijazah. Ini reformasi birokrasi,” tuturnya.

Sementara untuk pengadaan tes pada Agustus mendatang, secara keseluruhan akan dilakukan dengan menggunakan sistem computer assisted test (CAT). Herman menuturkan, penggunaan CAT akan diwajibkan untuk semua instansi baik pusat dan daerah.

Bagi daerah yang masih belum memadai infrastrukturnya, Kemen PAN-RB akan berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) untuk meminjam laboratorium dinas pendidikan dan kebudayaan (dispendik) daerah. “Kita optimalkan lewat Kemendikbud. Setiap dinas kan sudah memiliki lab komputer untuk uji kompetensi guru, kita akan meminjam itu,” jelasnya.

Namun, untuk antisipasi, pihaknya tetap akan menyiapkan lembar jawaban komputer (LJK) saat ujian berlangsung. “Tentu semuanya harus ada plan B, harus ada antisipasi,” tutupnya.

Sumber:www.radarcirebon.com
comments | | Read More...

Tarling

Penulis : Desi Susanti on Saturday, June 21, 2014 | 09:21

Saturday, June 21, 2014

Tarling adalah salah satu jenis musik yang populer di wilayah pesisir pantai utara (pantura) Jawa Barat, terutama wilayah Indramayu dan Cirebon. Nama tarling diidentikkan dengan nama instrumen itar (gitar) dan suling (seruling) serta istilah Yen wis mlatar gage eling (Andai banyak berdosa segera bertaubat). Asal-usul tarling mulai muncul sekitar tahun 1931 di Desa Kepandean, Kecamatan/Kabupaten Indramayu.  Alunan gitar dan suling bambu yang menyajikan musik Dermayonan dan Cerbonan itu pun mulai mewabah sekitar dekade 1930-an. Kala itu, anak-anak muda di berbagai pelosok desa di Indramayu dan Cirebon, menerimanya sebagai suatu gaya hidup. Trend yang disukai dan populer, di jondol atau ranggon* anak muda suka memainkannya, seni musik ini mulai digandrungi. Pada 1935, alunan musik tarling juga dilengkapi dengan kotak sabun yang berfungsi sebagai kendang, dan kendi sebagai gong. Kemudian pada 1936, alunan tarling dilengkapi dengan alat musik lain berupa baskom dan ketipung kecil yang berfungsi sebagai perkusi.

Sugra dan teman-temannya pun sering diundang untuk manggung di pesta-pesta hajatan, meski tanpa honor. Biasanya, panggung itu pun hanya berupa tikar yang diterangi lampu petromaks (saat malam hari). Tak berhenti sampai di situ, Sugra pun melengkapi pertunjukkan tarlingnya dengan pergelaran drama. Adapun drama yang disampaikannya itu berkisah tentang kehidupan sehari-hari yang terjadi di tengah masyarakat. Akhirnya, lahirlah lakon-lakon seperti Saida-Saeni, Pegat-Balen, maupun Lair-Batin yang begitu melegenda hingga kini. Bahkan, lakon Saida-Saeni yang berakhir tragis, selalu menguras air mata para penontonnya.

Namun yang pasti, nama tarling saat itu belum digunakan sebagai jenis aliran musik. Saat itu nama yang digunakan untuk menyebut jenis musik ini adalah Melodi Kota Ayu untuk wilayah Indramayu dan Melodi Kota Udang untuk wilayah Cirebon. Dan nama tarling baru diresmikan saat RRI sering menyiarkan jenis musik ini dan oleh Badan Pemerintah Harian (saat ini DPRD) pada tanggal 17 Agustus 1962 meresmikan nama Tarling sebagai nama resmi jenis musiknya.

Tapi satu hal yang pasti, seni tarling saat ini meskipun telah hampir punah. Namun demikian, tarling selamanya tidak akan bisa dipisahkan dari sejarah masyarakat pesisir pantura. Dikarenakan tarling adalah jiwa mereka, dengan ikut sawer keatas panggung atau sekedar melihatnya, dan mendengarnya seolah mampu menghilangkan beratnya beban hidup yang menghimpit. Lirik lagu maupun kisah yang diceritakan di dalamnya, juga mampu memberikan pesan moral yang mencerahkan dan menghibur.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Tarling
comments | | Read More...

Berwisata Ke Curug Bangkong

Penulis : Desi Susanti on Tuesday, June 10, 2014 | 11:08

Tuesday, June 10, 2014

Curug Bangkong memiliki ketinggian 23 meter dengan lebar sekitar 3 meter.  Daya tarik utama Curug ini terletak bila musim hujan tiba, dimana debit airnya akan membesar, menciptakan air terjun yang terbelah menjadi dua.

Selain di balik keindahan fenomena di atas, ternyata ada hal yang lain berupa cerita-cerita dari 'dunia lain' yang selalu mewarnai keberadaannya.  Kabarnya, banyak pengunjung datang ke curug ini tak sekedar melancong, tapi untuk tujuan lain, seperti mencari berkah dan berburu kesaktian.

Legenda

Menurut cerita dari mulut ke mulut, dahulu kala, ada seorang tua bernama Wiria, berasal dari Ciamis. Ia seorang pertapa, yang sedang berkelana. Secara tak sengaja ia menemukan sebuah air terjun atau curug dalam bahasa Sunda. Ketika itulah batinnya merasa terpanggil oleh kekuatan gaib yang ada di sekitar curug. Wiria yakin itulah tempat yang tepat untuk melakukan ‘tirakatnya’. Pun ia yakin bila di tempat itu pula ia akan dapat ilafat.

Disela-sela tirakat panjangnya, pria berpostur tinggi besar ini menyempatkan diri bergaul dengan masyarakat. Tak hanya itu. Ia pun mendidik masyarakat setempat tata cara membuat gula kawung (gula merah), yang bahan mentahnya melimpah di lingkungan sekitar.  Dengan setia pula masyarakat setempat mengikuti ajaran Wira.  Sehingga dalam waktu singkat, hampir seluruh penduduk desa pandai membuat gula kawung.  Lama-lama pekerjaan itu menjadi mata pencaharian mereka.

Seiring dengan itu, nama Wiria menjadi tokoh yang disegani.  Masyarakat memanggilnya Abah Wiria sebagai bentuk penghormatan.  Suatu masa, kembali Wiria mendapat panggilan batin untuk melanjutkan tirakatnya.  Ia pun kembali ke areal curug.  Konon menurut cerita, Abah Wiria melakukan tapa bratanya itu di balik air terjun, dimana disinyalir di balik air terjun itu ada sebuah gua atau lubang tempat Abah Wiria melakukan semadinya.

Berhari-hari bahkan berbulan-bulan Abah Wiria berada di sana.  Masyarakat merasa kehilangan seorang tokoh yang selama ini membimbing mereka.  Mereka khawatir terjadi sesuatu dengan tokoh yang berjasa tersebut.

Teka-teki keberadaan Abah Wiria pun merebak ke antero desa.  Warga lantas berinisiatif mencarinya, akan tetapi sosok Abah Wiria tak kunjung ditemukan.  Dugaan bila Abah Wiria menghilang (moksa) karena telah sempurna melaksanakan ritual tapa bratanya.

Banyak yang menyakini bila tubuh orang tua itu telah menjelma menjadi seekor Bangkong (kodok).  Hal itu lantaran sepeninggal Abah Wiria, disekitar air terjun itu sering terdengar suara kodok.  Padahal selama ini, jarang warga disitu mendengar ada suara kodok dan anehnya ketika suara kodok itu didekati tiba-tiba menghilang.

Berdasarkan dugaan itu, akhirnya air terjun itu diberi nama Curug Bangkong. Dalam perkembangannya bila seseorang mengikuti jejak Abah Wiria bertapa disekitar Curig Bangkong, pastinya akan disambut suara kodok.  Nah bila itu yang terjadi, konon sesorang akan bernasib baik, doanya akan dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.

Sumber:sites.google.com
comments | | Read More...

Pengunjung

 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use |Advertise with Us | Site map
Copyright © 2011. Seputar Kuningan . All Rights Reserved.
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger | Link Diet Menurunkan Berat Badan