News Update :
Hot News »
Bagikan kepada teman!

Dua Warga Jamblang Di Duga Teroris

Penulis : Desi Susanti on Thursday, January 21, 2016 | 20:05

Thursday, January 21, 2016

CIREBON – Densus 88 sudah menangkap dua warga Desa Orimalang, Kec Jamblang, Kab Cirebon, Jumat pagi (15/2). Dua orang yang ditangkap itu salah satunya berinisial JS, yang selama ini dicurigai oleh terlibat jaringan teroris.

Informasi dari radarcirebon.com yang saat ini sedang berada di lokasi, sejak tadi malam tim Densus sudah mengubek-ngubek Desa Orimalang. Hasilnya, malam tadi berhasil menangkap satu pelaku yang sedang membeli nasi goreng di Desa Bakung, dan pagi tadi menangkap satu orang lagi. Total ada dua orang terduga terlibat teroris yang ditangkap tanpa perlawanan.

Hingga saat ini Densus masih berada di lokasi. Kepala Desa Orimalang masih sibuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari media tekait penangkapan terhadap  warganya.

Tim Densus yang bersenjata lengkap tampak masih berjaga-jaga. Sementara warga masih ketakutan dan banyak yang berdiam di dalam rumah.

Sumber: http://www.radarcirebon.com/densus-amankan-2-warga-orimalang-jamblang.html
comments | | Read More...

Panduan Praktis Ajaib Al Quran Menjadi Manusia Cerdas 486x60

Muludan, Hiburan Rakyat Cirebon dan Sekitarnya

Penulis : Desi Susanti on Thursday, December 17, 2015 | 19:36

Thursday, December 17, 2015

Bulan Desember ini, masyarakat Cirebon dan sekitarnya bakal menikmati hiburan rakyat pasar muludan. Event yang selalu hadir setiap tahun ini, terbukti mampu menyedot ribuan pengunjung. Tak salah jika jumlah pedagang selalu bertambah setiap tahunnya dari berbagai daerah. Di pasar muludan, masyarakat bisa menjumpai berbagai macam kuliner, pakaian, kerajinan tangan dengan harga yang ekonomis. Siapa mau datang ke pasar muludan?

KERAMAIAN sudah mulai nampak di kompleks area Keraton Kasepuhan Cirebon, dalam menyambut tradisi muludan. Acara puncak peringatan maulid nabi di Keraton Kasepuhan ditutup dengan tradisi panjang jimat atau malam pelal yang jatuh pada 24 Desember mendatang. Namun, aktivitas pedagang dan pengunjung sudah mulai nampak sebulan sebelum acara pelal.

Area seputar keraton, Masjid Sang Cipta Rasa, alun-alun pun menjadi lapak pedagang musiman tersebut. Pasar Muludan sendiri lahir dari respons masyarakat setempat atas para pengunjung keraton yang selalu meningkat untuk menyaksikan acara malam pelal. Sultan Keraton Kasepuhan XIV, PRA Arief Natadiningrat SE menjelaskan, pada tahun ini pasar muludan sudah dimulai sejak tanggal 24 November hingga 24 Desember 2015.

Sultan memprediksi, jumlah pengunjung pada event muludan bisa lebih meningkat dibanding tahun lalu. Alasannya, karena momen muludan bertepatan dengan hari libur sekolah, hari libur Natal dan tahun baru. Di samping juga, karena adanya efek akses jalan tol Cipali yang mempersingkat waktu menuju ke Cirebon. “Setiap tahun yang jelas pedagang selalu bertambah, dan rata-rata event muludan ini bisa menyedot sekitar Rp200 ribu pengunjung ke keraton,” sebutnya kepada Radar, Kamis (10/12).

Dikatakan Sultan, pada dasarnya acara tradisi muludan di keraton sendiri tidak ada yang berbeda. Hanya saja, pada tahun ini pihaknya lebih banyak mengisi tradisi muludan dengan membaca salawatan. Saat acara panjang jimat, ada iringan genjring marawis dan lantunan salawat. Sebelumnya, pada tanggal 18-24 Desember akan ada Lomba Marawisan antara pesantren. “Kita ingin lebih banyak membaca salawat dalam kegiatan muludan ini,” ucap Arif.

Selain juga ada agenda tradisi rutin seperti Siraman Panjang, Pelal Alit, dan upacara panjang jimat. Sultan menjelaskan, adanya pasar muludan yang selalu menyedot pengunjung ini memang sedikit banyak mengganggu akses masuk ke Keraton Kasepuhan. Sehingga pihaknya berencana, menggelar pasar muludan ini lebih tertib dan tertata rapi. “Tadinya memang kita ingin seperti Festival Muludan, namun belum terwujud tahun ini. Mudah-mudahan tahun depan,” jelasnya.

Dikatakan dia, pihaknya akan mengundang beberapa instansi untuk membicarakan ketertiban acara muludan seperti Dishubinkom, Disperindag dan juga Disporbudpar. Acara Muludan di Keraton, kata Arif, bisa saja dibuat seperti layaknya Jakarta Fair. Sehingga dengan demikian, event ini mampu menjadi ikon pariwisata di Kota Cirebon.

Ketua Kelompok Pengembangan Pariwisata (Kompepar) Keraton Kasepuhan, Iman Sugiman mengatakan, menyebutkan rangkaian tradisi panjang jimat sendiri sudah dimulai dengan upacara siraman panjang yang dilakukan seminggu sebelum malam panjang jimat.

Upacara ini dilakukan pada pagi hari. Benda-benda kuno dikeluarkan dan dicuci untuk dibersihkan terlebih dahulu. Air bekas cucian inilah yang selalu diperebutkan warga, karena dipercayai membawa berkat. Kemudian, museum keraton selama tujuh hari dibuka hingga malam hari. Diteruskan dengan acara mipis di keraton, yaitu membuat makanan oleh para keluarga perempuan keraton.

“Selama seminggu itu juga, ada tradisi yang dinamakan chaos, yakni Sultan akan menerima tamu seharian dari berbagai lapisan masyarakat tanpa membuat janji terlebih dahulu,” jelasnya.

Diakuinya, selama tradisi muludan berlangsung, grafik pengunjung ke keraton dan Masjid Agung Sang Cipta Rasa meningkat. “Setiap momen muludan ada peningkatan, baik pengunjung tradisional atau mereka yang ingin menyaksikan langsung upacara panjang jimat. Dalam seminggu itu biasanya kita turunkan harga tiket, agar memudahkan pengunjung ke keraton,” jelasnya. Pengujung sendiri mulai membludak pada H-2 sebelum malam panjang jimat.

Keraton Kasepuhan sendiri menyediakan sekitar 10 ribu tiket dalam seminggu itu. Jumlah itu pun disebut masih kurang dan selalu habis. “Pasar muludan ini kan sebenarnya awal mula karena ada tradisi malam pelal yang banyak pengunjung. Kemudian dimanfaatkan pedagang untuk berjualan hingga sampai saat ini jumlah pedagang semakin tahun selalu bertambah dari berbagai daerah,” sebutnya.

Sumber: http://www.radarcirebon.com/cari-apa-saja-ada-di-muludan.html
comments | | Read More...

Panduan Praktis Ajaib Al Quran Menjadi Manusia Cerdas 486x60

Muludan, Hiburan Rakyat Cirebon dan Sekitarnya

Bulan Desember ini, masyarakat Cirebon dan sekitarnya bakal menikmati hiburan rakyat pasar muludan. Event yang selalu hadir setiap tahun ini, terbukti mampu menyedot ribuan pengunjung. Tak salah jika jumlah pedagang selalu bertambah setiap tahunnya dari berbagai daerah. Di pasar muludan, masyarakat bisa menjumpai berbagai macam kuliner, pakaian, kerajinan tangan dengan harga yang ekonomis. Siapa mau datang ke pasar muludan?

KERAMAIAN sudah mulai nampak di kompleks area Keraton Kasepuhan Cirebon, dalam menyambut tradisi muludan. Acara puncak peringatan maulid nabi di Keraton Kasepuhan ditutup dengan tradisi panjang jimat atau malam pelal yang jatuh pada 24 Desember mendatang. Namun, aktivitas pedagang dan pengunjung sudah mulai nampak sebulan sebelum acara pelal.

Area seputar keraton, Masjid Sang Cipta Rasa, alun-alun pun menjadi lapak pedagang musiman tersebut. Pasar Muludan sendiri lahir dari respons masyarakat setempat atas para pengunjung keraton yang selalu meningkat untuk menyaksikan acara malam pelal. Sultan Keraton Kasepuhan XIV, PRA Arief Natadiningrat SE menjelaskan, pada tahun ini pasar muludan sudah dimulai sejak tanggal 24 November hingga 24 Desember 2015.

Sultan memprediksi, jumlah pengunjung pada event muludan bisa lebih meningkat dibanding tahun lalu. Alasannya, karena momen muludan bertepatan dengan hari libur sekolah, hari libur Natal dan tahun baru. Di samping juga, karena adanya efek akses jalan tol Cipali yang mempersingkat waktu menuju ke Cirebon. “Setiap tahun yang jelas pedagang selalu bertambah, dan rata-rata event muludan ini bisa menyedot sekitar Rp200 ribu pengunjung ke keraton,” sebutnya kepada Radar, Kamis (10/12).

Dikatakan Sultan, pada dasarnya acara tradisi muludan di keraton sendiri tidak ada yang berbeda. Hanya saja, pada tahun ini pihaknya lebih banyak mengisi tradisi muludan dengan membaca salawatan. Saat acara panjang jimat, ada iringan genjring marawis dan lantunan salawat. Sebelumnya, pada tanggal 18-24 Desember akan ada Lomba Marawisan antara pesantren. “Kita ingin lebih banyak membaca salawat dalam kegiatan muludan ini,” ucap Arif.

Selain juga ada agenda tradisi rutin seperti Siraman Panjang, Pelal Alit, dan upacara panjang jimat. Sultan menjelaskan, adanya pasar muludan yang selalu menyedot pengunjung ini memang sedikit banyak mengganggu akses masuk ke Keraton Kasepuhan. Sehingga pihaknya berencana, menggelar pasar muludan ini lebih tertib dan tertata rapi. “Tadinya memang kita ingin seperti Festival Muludan, namun belum terwujud tahun ini. Mudah-mudahan tahun depan,” jelasnya.

Dikatakan dia, pihaknya akan mengundang beberapa instansi untuk membicarakan ketertiban acara muludan seperti Dishubinkom, Disperindag dan juga Disporbudpar. Acara Muludan di Keraton, kata Arif, bisa saja dibuat seperti layaknya Jakarta Fair. Sehingga dengan demikian, event ini mampu menjadi ikon pariwisata di Kota Cirebon.

Ketua Kelompok Pengembangan Pariwisata (Kompepar) Keraton Kasepuhan, Iman Sugiman mengatakan, menyebutkan rangkaian tradisi panjang jimat sendiri sudah dimulai dengan upacara siraman panjang yang dilakukan seminggu sebelum malam panjang jimat.

Upacara ini dilakukan pada pagi hari. Benda-benda kuno dikeluarkan dan dicuci untuk dibersihkan terlebih dahulu. Air bekas cucian inilah yang selalu diperebutkan warga, karena dipercayai membawa berkat. Kemudian, museum keraton selama tujuh hari dibuka hingga malam hari. Diteruskan dengan acara mipis di keraton, yaitu membuat makanan oleh para keluarga perempuan keraton.

“Selama seminggu itu juga, ada tradisi yang dinamakan chaos, yakni Sultan akan menerima tamu seharian dari berbagai lapisan masyarakat tanpa membuat janji terlebih dahulu,” jelasnya.

Diakuinya, selama tradisi muludan berlangsung, grafik pengunjung ke keraton dan Masjid Agung Sang Cipta Rasa meningkat. “Setiap momen muludan ada peningkatan, baik pengunjung tradisional atau mereka yang ingin menyaksikan langsung upacara panjang jimat. Dalam seminggu itu biasanya kita turunkan harga tiket, agar memudahkan pengunjung ke keraton,” jelasnya. Pengujung sendiri mulai membludak pada H-2 sebelum malam panjang jimat.

Keraton Kasepuhan sendiri menyediakan sekitar 10 ribu tiket dalam seminggu itu. Jumlah itu pun disebut masih kurang dan selalu habis. “Pasar muludan ini kan sebenarnya awal mula karena ada tradisi malam pelal yang banyak pengunjung. Kemudian dimanfaatkan pedagang untuk berjualan hingga sampai saat ini jumlah pedagang semakin tahun selalu bertambah dari berbagai daerah,” sebutnya.

Sumber: http://www.radarcirebon.com/cari-apa-saja-ada-di-muludan.html
comments | | Read More...

Panduan Praktis Ajaib Al Quran Menjadi Manusia Cerdas 486x60

Sejarah Desa Cilimus Kuningan

Penulis : Desi Susanti on Saturday, November 14, 2015 | 11:02

Saturday, November 14, 2015

 Secara etimologi Cilimus berasal dari kata “cai” dan “limus” atau “cailimus” disingkat “Cilimus”. Secara terminologi, Cilimus sebagaimana umumnya nama suatu tempat di tatar sunda selalu di awali dengan kata “Ci” atau “Cai” (air) yakni suatu Padukuhan atau tempat berdiamnya suatu komunitas masyarakat di tatar Sunda yang ditempat tersebut banyak terdapat pohon Mangga Limus disepanjang sungai Cibacang. Cibacang sendiri berasal dari kata “cai” dan “embacang” atau nama lain dari mangga limus juga. Sungai tersebut mengalir dari lereng gunung Ciremai terus membujur ke arah timur hingga memasuki dan melewati suatu kampung yang bernama Tarikolot, suatu kampung (umbul, menurut istilah setempat) sebagai pusat pemerintahan Pakuwon (Pakuwuan) Cilimus sebagai cikal bakal nama Desa Cilimus dimasa kini.

Nama Pakuwon Cilimus mulai dipakai saat pemukiman ini mulai dipimpin oleh tokoh yang bernama Ki Buyut Sacawana yang saat itu masuk dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Kasepuhan yang memiliki 80 pakuwon dan beberapa kabupatian. Sehingga yang menjadi pokok penelusuran sejarah Cilimus dimulai dari tokoh Ki Buyut Sacawana ini.

Desa Cilimus sebagai Ibu Kota Kecamatan Cilimus serta eks Kawedanan Cilimus, secara geografis terletak diantara wilayah Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat. Batas wilayah Kecamatan Cilimus, sebelah utara berbatasan dengan wilayah Kecamatan Beber Kabupaten Cirebon. Sebelah Barat berbatasan dengan Gunung Ciremai, sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Cigandamekar Kabupaten Kuningan dan sebelah Selatan berbatasan dengan wilayah Kecamatan Jalaksana Kabupaten Kuningan.

ASAL USUL NAMA TEMPAT DAN TOKOH PENDIRI CILIMUS
Sejarah Cilimus terungkap kembali saat Nusantara dalam cengkraman penjajahan Belanda, tepatnya saat Belanda kembali menjajah menggantikan Inggris yang hengkang dari bumi pertiwi pada tahun 1817 masehi.

Namun pada masa penjajahan Belanda ini, wilayah Pakuwon Cilimus masuk dalam wilayah Kabupatian Linggajati yang berdampingan dengan Kabupatian Kuningan yang sama-sama masuk dalam wilayah kedaulatan Kesultanan Kasepuhan Cirebon. Hal ini didapat pada laporan Residen Cirebon yang bernama P.H. Van Der Kemp yang tertuang pada Beslit No. 13 tanggal 30 Januari 1818 yang melaporkan bahwa, telah memerintahkan Bupati Linggajati untuk membantu Opsiner Kehutanan Banyaran yang bernama Prudants dan Bupati Bengawan Wetan yakni Raden Adipati Nitidiningrat yang kewalahan dalam melawan para pemberontak yang tengah mundur ke Palimanan. (P.H. Van Der Kemp. 1979: 16).

Situasi saat itu memang tengah gencar-gencarnya pemberontakan yang terkenal dengan istilah Perang Kedondong di antero wilayah Cirebon, Karawang, Majalengka hingga Kabupatian Talaga yang dipimpin oleh Ki Bagus Rangin dan Ki Bagus Serit atau pada masa Sultan Sepuh VIII yakni Sultan Raja Udaka (1815-1845) sebagai kelanjutan dari Pemberontakan Pangeran Suryanegara tahun 1753-1773 (Iswara. 2009: 28).

1. RATU NGADEG PIAMBEK
Syahdan, dalam situasi yang masih belum pulih akibat peristiwa pemberontakan oleh PANGERAN SURYANEGARA II alias Pangeran Arya Panengah Abukayat Suryakusuma, beliau adalah anak ke-2 dari Sultan Sepuh IV Raja Amir Sena Mohammad Jaenudin dan juga adik Sultan Sepuh V Sultan Matangaji. Makam Pangeran Suryanegara II berada di Komplek Pemakaman Gunung Sembung Cirebon.

Setelah keluar dari Keraton Kasepuhan karena ketidaksesuaian faham dengan Sultan Sepuh pengganti kakaknya. Selanjutnya beliau berkedudukan di Mertasinga yang dahulunya merupakan ibukota Kerajaan Singapura sebelum era Kesultanan Cirebon berdiri.

Pada masa itu, telah lahir seorang putra dari ibu Nyi Mas Sri Murti Wulandari & ayah bernama Pangeran Lubang Suryakusuma (anak dari Pangeran Suryanegara II dari istri Ratu Pinangsih Sitoresmi/ Siti Khadijah binti Ki Kriyan).

Bayi tersebut bernama Pangeran Adiredja Martakusumah yang lahir pada hari Jum’at Legi tanggal 8 November 1811 di Mertasinga (5 km utara kompleks Pemakaman Gunung Sembung).
Menurut pitutur para sepuh, sejak usia remaja Pangeran Adiredja Martakusumah senang menuntut ilmu, utamanya ilmu kedigjayaan sehingga bisa menguasai ilmu kesaktian yang pada masa itu dianggap sangat tinggi yakni ilmu Rawe Rontek.

Namun sejak kecil Pangeran Adiredja Martakusumah pun sudah mendapat gemblengan ilmu lahir dan ilmu batin dari ayahnya. Disamping belajar ilmu agama dan darigama, ia digembleng fisiknya dengan ilmu silat oleh ayahnya.

Menjelang masa remaja, pangeran muda tersebut berguru pada seorang mantan pendekar sakti yang mengasingkan diri dipinggiran kota raja (mungkin disekitaran Kota Sumber sekarang).
Pangeran muda tersebut akhirnya bisa mengabdi di Keraton Kasepuhan atas jasa seorang Pengageng Keraton Kasepuhan yang disegani raja yang saat itu dijabat oleh Sultan Sepuh IX Sultan Radja Sulaeman. Jadi meskipun beliau putra dan cucu seorang pemberontak, disamping jasa sang pengageng tadi, toh beliau juga masih kerabat dekat keraton.

Dikisahkan, pada usia 36 tahun atau tepatnya tahun 1847 Pangeran Adiredja Martakusumah mendapat tugas dari Keraton Kasepuhan atas usul dan dukungan Pengageng Keraton yang disegani tadi untuk mengelola pemukiman di suatu padukuhan diwilayah kidul yang mulai berkembang yang terdapat banyak pohon mangga limus disekitarnya yang pada akhirnya bernama Pakuwon Cilimus, yang dikemudian hari berubah lagi menjadi Desa Cilimus.

Sebenarnya, secara politis, maksud Pengageng Keraton Kasepuhan tersebut mengutus keturunan Sultan Sepuh IV tadi adalah untuk mengantisipasi bila ancaman Belanda benar-benar dilaksanakan, yakni akan mengebom keraton sebagaimana nasib keraton Banten yang dibumi hanguskan oleh Belanda akibat pemberontakan Sultan Banten kepada penjajah Belanda. Ancaman tersebut disampaikan Belanda sewaktu meminta Pangeran Suryanegara II menghentikan pemberontakan. Jadi antisipasi tersebut yakni dengan mempersiapkan pusat pemerintahan darurat diwilayah kidul dengan mengutus seorang yang memiliki trah dari Sunan Gunung Jati sebagai penerus Kesultanan Kasepuhan Cirebon. Tapi untunglah ancaman Belanda tersebut tidak pernah dilaksanakan karena Sultan Sepuh saat itu pernah menyurati Pangeran Suryanegara II memohon untuk menghentikan perlawanan kepada Belanda demi keutuhan keraton warisan yang sama-sama mereka hormati Sinuwun Sunan Gunung Jati.

Kembali pada kisah perjalanan Pangeran Adiredja Martakusumah yang meninggalkan Cirebon disertai 2 (dua) orang Istrinya serta 5 (lima) orang anaknya beserta beberapa orang pengikutnya diantaranya bernama Raden Langlangbuwana, Raden Singadiperana dan Raden Gunawicara, mereka adalah menak keturunan Dalem Darim dari keturunan Sunan Gunung Agung atau Buyut Pakidulan (Garut) . (Nama-nama tadi pernah diabadikan sebagai nama Sekolah Dasar Langlang Buwana di umbul Kalungluwuk yang sekarang bernama SDN V Cilimus dan nama SDN Gunawicara didekat Desa Indapatra).

Dengan menanggalkan pakaian pinangerannya serta menyembunyikan gelar pangerannya, Pangeran Adiredja Martakusumah menyamarkan diri dengan berpakaian yang umumnya dipakai orang-orang sunda dulu yaitu pangsi hitam-hitam dan ikat kepala balangbang semplak, berangkatlah rombongan itu menuju kearah selatan.

Mereka berkuda dan tiba disatu kampung bernama Wanacala dimana sang Orang Kepercayaan Sang Kakek (Tubagus Suryajayanegara) dikebumikan. Rombongan berhenti sejenak untuk berziarah terlebih dahulu di makam tersebut.

Setelah usai berziarah, rombongan melanjutkan perjalanannya kembali menuju selatan. Selama dalam perjalanan, Pangeran Adiredja Martakusumah berfikir-fikir tentang nama yang cocok sebagai pengganti nama aslinya bila dirinya telah tiba ditujuan.

Terinspirasikan nama kampung Wanacala tersebut, beliau mengutak-atik nama kampung tersebut, wana-cala, dibalik cala-wana. Akhirnya didapat nama yang cocok yakni “SACAWANA” (gabungan dari “Saca” dan “Wana”). Saat itu nama “saca” banyak dipakai para menak sunda seperti sacanata, sacadilaga, saca mangunhardja dan lain sebagainya.

Akhirnya Pangeran Adiredja Martakusumah memerintahkan kepada para keluarga serta pengikutnya untuk memanggil dirinya dengan nama baru yakni Ki Sacawana.
Setibanya disuatu tempat yang banyak terdapat pohon mangga limus yang buahnya sangat harum dan khas aromanya utamanya banyak terdapat di sepanjang sungai ditempat itu, sehingga pakuwon itu ia beri nama CILIMUS dari kata “air buah limus”.

Sebelum sampai ditepi sungai dimaksud tadi, Ki Sacawana dan rombongan sejenak berhenti dibawah pohon Beringin Karet yang sangat besar (sekarang berada di alun-alun Cilimus/ terminal mobil Cilimus). Sejenak beliau berkontemplasi dengan mengerahkan segenap daya cipta rasa mata batin untuk menembus kegaiban ditempat itu karena getaran yang kuat sudah dirasa sejak melihat pohon beringin karet tersebut dari jauh.

Dari hasil kontemplasi Ki Sacawana, rupanya mahluk ghaib (danyang atau dahiang) yang bernama Nyai Andayasari sejenis jin muslim yang “ngageugeuh” (mengayomi) di padukuhan itu telah menyambut kedatangan Ki Sacawana beserta rombongan. (Nama Andayasari pernah diabadikan sebagai nama Sekolah Dasar Inpres Andayasari di Jalan Pasawahan sekarang).

Setelah tiba ditepi sungai yang banyak pohon mangga limusnya tadi, sekarang bernama “goang” (sungai) Cibacang, rombongan tersebut sejenak beristirahat untuk melepaskan lelah. Setelah merasa cukup beristirahat rombongan tidak terus berjalan ke arah selatan melainkan berjalan ke arah timur menyusuri sungai Cibacang tadi. Akhirnya tiba disatu tempat yang dirasa tepat untuk mendirikan tempat tinggal dan pusat pemerintahan yang bernama Tarikolot.

Setibanya di padukuhan Tarikolot, Ki Sacawana mulai membangun pemukiman dan juga balai pusat pemerintahan (istilah sekarang bernama Balai Desa). Dengan dibantu oleh beberapa orang tokoh selain yang ikut dalam rombongan tadi yaitu Ki Jaliman dan beberapa orang lainnya yang kesemuanya adalah pengikut setia Ki Sacawana hingga akhir hayatnya.

Begitu besar wibawa sang pangeran yang telah berganti nama menjadi Ki Sacawana dihadapan rakyat Cilimus dan sekitarnya sehingga beliau mendapat julukan RATU NGADEG PIAMBEK, dari bahasa sunda buhun yang artinya raja yang berdiri sendiri atau raja yang tidak dipilih rakyat tapi jadi dengan sendirinya.

Ki Buyut Sacawana atau Ratu Ngadeg Piambek memiliki profil yang menarik. Beliau berperawakan sedang dan berotot, agak tinggi badannya, rambutnya panjang tebal dan agak ikal, berkulit kuning langsat, berhidung mancung, bermata tajam namun teduh, bicaranya bisa tegas bisa lembut tergantung kondisi namun lemah lembut pada rakyatnya, kesukaannya berpakaian seperti kebanyakan masyarakat sunda pada masa itu yaitu baju pangsi hitam serta ikat kepala batik. Memang suatu gambaran profil yang pantas bila beliau digelari Ratu Ngadeg Piambek karena perbawa wibawa yang dimilikinya, padahal masyarakat Cilimus kebanyakan tidak mengetahui bila beliau adalah seorang keturunan raja yang disegani di Cirebon juga keturunan seorang Awliya yang menjadi panutan masyarakat tatar pasundan pada umumnya.

Pembangkangan Ki Buyut Sacawana
Sesungguhnya, dihati Pangeran Adiredja Martakusumah (Ki Sacawana) masih memendam ketidakpuasan akan nasib ayahnya juga kakeknya. Kakeknya meninggalkan Keraton Kasepuhan beserta 3 (tiga) orang adiknya yakni Pangeran Jayawikarta, Pangeran Arya Kidul dan Pengeran Arya Kulon karena alasan tertentu. Oleh karenanya P. Suryanegara II berencana membangun keraton di bekas Keraton Mertasinga (eks Kerajaan Singapura). Tapi karena Sultan Kanoman melarang untuk meneruskan pembangunan keraton dimaksud, akhirnya ditempat tersebut hanya dijadikan basis perlawanan kepada Belanda.
Ayahnya Pangeran Adiredja Martakusumah yakni P. Lubang Suryakusuma juga meninggal secara menyedihkan dengan tubuh berlubang-lubang, sehingga dikenal dengan sebutan Pangeran Lubang, namun ayahnya tersebut gugur sebagai syuhada kusuma bangsa.

Jadi kepergianya ke Cilimus adalah dengan membawa kepedihan hati dan rasa kecewa yang terpendam dihati Pangeran Adiredja Martakusumah/ Ki Sacawana, sehingga beberapa waktu kemudian beliau mulai melakukan pembangkangan terhadap pihak kerajaan Cirebon yang pada saat itu cenderung memihak kepada Belanda.

Dengan cara rahasia, mulailah beliau melakukan pembangkangan atau pemberontakan dengan rapinya. Pembangkangan kepada Kesultanan Kasepuhan pada hakekatnya adalah pemberontakan kepada penjajah Belanda dengan cara gerilya. Diceritakan bahwa, banyak anak buahnya yang menyamar jadi pedagang bila bertemu dengan Serdadu Belanda yang sedang lengah, mereka membunuh serdadu itu hanya dengan alat sederhana semisal ditusuk dengan garpu makan dan sebagainya.

Ki Sacawana seorang ”jadug” yang sakti mandraguna, tidak bisa mati selama tubuhnya menyentuh tanah kendati tubuhnya itu sudah terpotong-potong. Itulah yang dikenal dengan Ajian Rawe Rontek, ilmu andalah Ki Buyut Sacawana.

Dikisahkan, dalam melaksanakan aksinya Ki Sacawana suka menghentikan dan menyamun para utusan penguasa dari wilayah kidul yang saat itu masih mengakui kedaulatan Cirebon seperti dari Ciamis, Tasikmalaya dan lain-lainnya. Ki Sacawana dan para pengikutnya bertindak ala Robinhood dalam cerita kepahlawanan Inggris, karena hasil rampasannya tersebut selanjutnya dibagi-bagikan kepada rakyat, utamanya kepada rakyat yang miskin. Meskipun mereka menyamun, tapi Ki Sacawana dan pengikutnya bukanlah perampok sungguh-sungguh karena mereka tidak pernah menyamun para pedagang atau saudagar yang lewat diwilayah operasi mereka. Jadi yang dirampok hanyalah barang-barang upeti untuk raja Cirebon.

Tempat dimana biasanya Ki Sacawana beserta pengikutnya menyamun barang-barang upeti tersebut, hingga kini tempat itu di kenal dengan nama Ciloklok, yang maksudnya “ditelan bulat-bulat”.
Pada akhirnya perbuatan dan sepak terjang beliau lambat laun diketahui oleh pihak Keraton Kasepuhan, untuk selanjutnya diberikan peringatan untuk menghentikan aksinya tersebut, namun tidak digubris. Karena aksi pembangkangan Ki Sacawana tersebut sebenarnya bukan hanya karena menghendaki barang rampasannya semata, namun sekaligus sebagai upayanya untuk melemahkan Kesultanan Cirebon dan Belanda dengan memutuskan mata rantai dari wilayah kidul, minimal sebagai sikap balas dendam atas nasib kedua leluhurnya sebagaimana telah dipaparkan di atas tadi.

Pada akhirnya, pihak keraton di Cirebon memutuskan untuk membunuh Ki Sacawana dengan mengirimkan ponggawa keraton beserta pendekar-pendekar untuk menangkap dan membunuh Ki Sacawana. Tetapi tindakan itu selalu mengalami kegagalan dikarenakan kesaktian yang dimiliki Ki Sacawana.
Namun selanjutnya ada juga penghianat bangsa yang mau memberitahukan kelemahan beliau, bahwa Ki Sacawana hanya dapat dibunuh dengan cara bagian tubuhnya dipisah-pisahkan (mutilasi) dan dikuburkan pun secara terpisah-pisah pula.

Meninggalnya Ki Sacawana
Pada suatu ketika, datanglah di Linggajati seorang yang berpakaian kyai yang akan menjajal kesaktian Ki Buyut Sacawana yang sudah terkenal dimana-mana. Syahdan, Kyai tersebut sudah mengetahui weton kelahirannya Ki Sacawana sehingga bisa mengetahui hari naas Ki Sacawana.
Selanjutnya, dihari yang sudah diketahui sebagai hari naas Ki Sacawana, diundanglah oleh Kyai tadi untuk mengajak perang tanding kepada Ki Buyut Sacawana. Cadu mundur sanyari bumi, begitu istilahnya, Ki Sacawana menerima tantangan itu.

Bertempat di sebuah lapangan yang dikelilingi banyak pohon pinus dilereng Gunung Ciremai (mungkin diwilayah Gunung Deukeut/ Desa Setianegara sekarang), perang tanding pun mulai dilaksanakan dari pagi hingga sore hari tanpa campur tangan siapapun. Ki Sacawana bersenjatakan pusaka semacam golok panjang/ pedang dan si Kyai bersenjatakan keris berwarna putih luk-8 serta bisa memancarkan sinar putih keperakkan.

Diceritakan, adu kanuragan dengan mengeluarkan jurus-jurus silat yang pada masa itu banyak meniru gerakan-gerakan hewan berlangsung seru, serta adu kesaktian yang mendebarkan. Kesaktian mereka sebenarnya berimbang, tapi karena saat itu menurut perhitungan si kyai adalah hari naas Ki Sacawana, maka benarlah yang terjadi. Ki Sacawana akhirnya dapat ditusuk dengan keris besi putih oleh si Kyai tersebut tepat diulu hati Ki Sacawana.

Mungkin sudah suratan takdirnya, bahwa ajal sesepuh Cilimus ini harus tewas dalam adu kesaktian dan bisa dibunuh pada tahun 1880, pada saat itu usia Ki Sacawana atau Ratu Ngadek Piambek atau Pangeran Adiredja Martakusumah adalah 69 tahun.

Selanjutnya jenazah Ki Sacawana dimutilasi di atas ”anjang-anjang” tanaman labu siam untuk menghindari jasad pemilik Ajian Rawe Rontek itu menyentuh tanah dengan menggunakan keris putih luk-8 tadi. Selanjutnya jasad Ki Sacawana yang sudah terpotong menjadi 3 (tiga) bagian itu dikuburkan ditempat yang terpisah jauh yakni:


  • Bagian kepala dikuburkan di Desa Panawuan disatu perbukitan (pasir, istilah Sunda).
  • Bagian dada dan perut dikuburkan di Desa Cilimus, tepatnya di Dusun Kalungluwuk.
  • Bagian kaki dikuburkan di Desa Sindangkasih Kecamatan Beber Kabupaten Cirebon (belum diketahui tepatnya).


Anak dan Keturunan Ki Sacawana
Ki Sacawana wafat pada tahun 1880 masehi (tidak diketahui hari dan tanggalnya). Beliau meninggalkan 2 (dua) orang istri dan 5 (lima) orang anak. Dua orang anak dari istri pertama dan 3 (tiga) orang anak dari istri kedua yang bernama Nyi Mas Sri Murti Wulandari (putri dari keturunan Keraton Kasepuhan). Ki Sacawana yang pada saat itu bernama Pangeran Adiredja Martakusumah menikahi Nyi Mas Murti Wulandari pada usia 20 tahun tepatnya pada tahun 1831 masehi.

Belum diketahui semua anaknya tadi, cuma satu anak yang diketahui bernama Pangeran Rahmat Agung Martakusumah anak kedua dari ibu Nyi Mas Sri Murti Wulandari (istri ke-2) yang lahir pada hari Sabtu Wage, 6 Oktober 1832 di Keraton Kasepuhan. Adiknya menyusul lahir pada tahun 1834 dan si bungsu lahir tahun 1837 masehi.

Pangeran Rahmat Agung Martakusumah beserta keempat saudaranya lahir di Cirebon, sewaktu mereka masih kecil-kecil dan tinggal di keraton terpaksa harus hijrah mengikuti ayahnya ke Cilimus.
Setelah kejadian pembunuhan atas ayahnya yaitu Ki Sacawana, Pangeran Rahmat Agung yang pada saat itu berumur 46 tahun meninggalkan Cilimus untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, yakni berhijrah ke kampung yang bernama Lingga di wilayah Kabupaten Majalengka (belum diketahui letak kampung tersebut, karena mungkin sekarang sudah berganti nama).

Saat meninggalkan Cilimus, P. Rahmat Agung Martakusumah meninggalkan seorang istri yang bernama Nyai Siti Maemunah (Putri ke-5 dari 11 orang bersaudara Ki Buyut Marmagati/ tokoh yang akan diceritakan nanti) di Cilimus.

P. Rahmat Agung mempunyai seorang istri dan 8 (delapan) orang anak: 1. (laki-laki) 2. (perempuan) 3. (laki-laki) 4. Elang Wiguna Tawidjar Martakusumah 5. (perempuan) 6. (perempuan) 7. (laki-laki) dan 8. (perempuan).
Jadi cuma satu anaknya yang diketahui namanya, yakni anak ke-4 yang bernama Elang Wiguna Tawidjar Martakusumah (para keturunannya biasa menyebut nama pendeknya saja yakni Buyut Tawidjar).
Setelah keadaan dirasa sudah aman, P. Rahmat Agung pulang kembali Cilimus. Pada usia 70 tahun tepatnya pada tahun 1904 pangeran yang bersifat sabar, tawakal serta hidup sederhana dan juga tidak mau menjadi Kuwu Cilimus, meninggalkan dunia yang fana ini menyusul ramanya yang telah gugur sebagai kesumah dengan cara yang menyedihkan. Pada Saat itu Desa Cilimus dipimpin oleh Kuwu II yang bernama Kuwu Rumsewi (1880 s/d 1887).

2. TUBAGUS MARMAGATI
Pada era yang sama saat kedatangan Pangeran Adiredja Martakusumah/ Ki Sacawana di Pakuwon Cilimus, kedatangan seorang tokoh ulama yang bergelar Tubagus dari Kesultanan Banten yang mengganti nama dengan panggilan Ki Marmagati. Ki Marmagati meninggalkan Banten setelah Kesultanan Banten berakhir, yakni setelah meninggalnya Sultan Banten pamungkas yakni Sultan Banten XXI Sultan Muhammad Rafiuddin (1813-1820).

Karena di wilayah Banten terus dilanda kemelut, sang Tubagus meninggalkan kampung halamannya berhijrah kewilayah timur yang pada akhirnya tiba di Pakuwon Cilimus tepatnya di umbul Kukulu untuk menjalani hidup baru sembari berdakwah dan mengajarkan ilmu.
Sebagaimana halnya dengan Ki Sacawana, sang Tubagus itu pun menyembunyikan gelar kebangsawanannya dengan mengganti nama menjadi MARMAGATI, seorang ulama yang luhur budinya serta kaya ilmunya. Beliau berbadan tinggi besar, gagah, berkumis dan berjenggot lebat serta brewokan dan suka berpakaian putih-putih laiknya pakaian para ulama pada umumnya.

Ki Marmagati dan Ki Sacawana yang sama-sama keturunan dari Sunan Gunung Jati bersama-sama membesarkan Desa Cilimus pada bidang tugasnya masing-masing, akhirnya berbesanan dengan menikahkan puteri ke-5 nya yang bernama Nyai Siti Maemunah dengan putera Ki Sacawana yang bernama Rahmat (Pangeran Rahmat Agung Martakusumah).

Setelah beberapa waktu lamanya beliau mengajarkan ilmu agama Islam serta berdakwah pada masyarakat Desa Cilimus, akhirnya Ki Buyut Marmagati hijrah ke Gunung Sirah di salah satu desa di Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan. Selanjutnya beliau menetap dan berdakwah disana hingga wafatnya dan dikebumikan di Puncak Bukit Oncangan Desa Gunung Sirah (sampai sekarang makam beliau masih terawat rapi berdampingan dengan istri dan murid-muridnya).

Saat hijrahnya ke Gunung Sirah tidak diketahui kapan waktunya, namun diduga waktunya adalah pasca gugurnya Ki Buyut Sacawana. Atau kemungkinan saat menantunya hijrah ke wilayah Majalengka, beliau pun hijrah ke wilayah Darma di Kabupaten Kuningan.

3. TUBAGUS HADJI ABDUL GHAFAR (KUWU KE-III DESA CILIMUS)
Pada saat Ki Buyut Sacawana memerintah sebagai Kuwu Cilimus yang pertama, di Cilimus ada juga seorang keturunan Sunan Gunung Jati dari jalur Kesultanan Banten yang bernama Tubagus Hadji Abdul Ghafar yang lahir pada tahun 1816 di Cilimus.

Tb. H. Abdul Ghafar menjadi Kuwu Cilimus yang ke-3 menggantikan Kuwu Rumsewi pada tahun 1887 sampai tahun 1922 masehi. Bapak Tb. H. Abd. Ghafar meninggal dalam usia sangat tua yakni 106 tahun tepatnya pada tahun 1922 masehi, dimakamkan di Pemakaman Pasir Jati diposisi paling atas (bukit kecil) dekat pohon beringin.

Makam beliau berada ditengah-tengah 3 (tiga) makam yang berdampingan. Sebelah barat adalah makam putranya yang pertama yang dari istri pertamanya (Ibu Hj. Fatmah) dan yang sebelah timur adalah makam istrinya pertama tadi. Kalau makam istri ke-2 nya berada di Pemakaman Ciloklok Cilimus.
Sewaktu memerintah, Tubagus H. Abdul Ghafar (disalah satu silsilah keluarga, ditulis Abdul Gappar) dibantu oleh Juru Tulis (Sekretaris Desa) yang bernama Bapak Hadji Hasan (Elang Hasan Tawidjar Martakausumah) putra ke-2 dari 6 (enam) bersaudara Elang Wiguna Tawidjar Martakusumah. Berarti Bapak Hadji Hasan adalah cucu dari Ki Sacawana.
Sementara, Bapak Tb. H. Abdul Ghafar memiliki 2 (dua) orang istri. Istri yang pertama bernama Ibu Hadjah Fatmah, memiliki 3 (tiga) orang anak, anak pertama laki-laki meninggal dunia sewaktu kecil dan 2 orang putri.

Karena anak laki-lakinya meninggal dunia, beliau meminta izin kepada istrinya untuk menikah lagi. Ibu Hj. Fatmah ikhlas dimadu sehingga Bapak Tb. Hj. Abdul Ghafar menikah kembali dengan Ibu Salmah dan dikarunia 6 (enam) orang anak yaitu 5 (lima) orang putera dan 1 (satu) orang puteri.
Dituturkan, bahwa profil Bapak Hadji Hasan (Elang Hasan) yang mewarisi profil ayahnya yang lemah lembut, pekerja keras serta agamis juga tampan, menarik hati Pak Kuwu untuk menjodohkan dengan puterinya yang bernama Ratu Hadjah Djaonah.

Sebenarnya, kawin-mawin, silang-menyilang memang sudah menjadi tradisi di tatar Cilimus dan sekitarnya, sehingga pada umumnya, warga asli Desa Cilimus bersumber pada 3 (tiga) orang tokoh yang telah diuraikan di atas tadi yakni:
1. Ki Sacawana (Pangeran Adiredja Martakusumah) asal Cirebon;
2. Ki Marmagati (Tubagus Marmagati) asal Banten;
3. Bapak H. Abdul Ghafar (Tubagus Hadji Abdul Ghafar) keturunan Banten dan Cirebon yang lahir di Cilimus.
Sehingga para Kuwu di Desa Cilimus, bisa dikatakan umunya dari keturunan/ ada ikatan dengan ke-3 tokoh di atas tadi.

4. KUWU-KUWU YANG PERNAH MEMERINTAH DESA CILIMUS
Sejarah Cilimus lebih merunut pada para tokoh pemerintahannya yakni para kuwu yang pernah memerintah Pakuwon/ Desa Cilimus. Jadi urutan kuwu dari pra-Indonesia merdeka, pasca-Indonesia Merdeka, masa Orde lama, masa Orde Baru hingga saat sekarang ini (Orde Reformasi) bisa dirunut beserta masa jabatannya sebagai berikut:
1. P. Adiredja Martakusumah/Ki Sacawana (1847 s/d 1880)
2. Ki Rumsewi (1880 s/d 1887)
3. Tubagus Hadji Abdul Gappar (1887 s/d 1922)
3. Rd. Ranadisastra (Pejabat Kuwu)
4. Rd. Karnadisastra (1922 s/d 1928)
5. Rd. Wangsaatmaja (1928 s/d 1947)
6. E. Suarja (1947 s/d 1950)
7. Rd. Jaya Sentana (1950 s/d 1956)
8. Bapak Muhammad Hasyim (1956 s/d 1969)
9. Bapak A. Pathoni Saleh (1969 s/d 1979)
10. Bapak E. Rosyidin (1980 s/d 1988)
11. Bapak Toto (Pejabat Kuwu)
12. Bapak Masuri (1990 s/d 1998)
13. Bapak Masuri 2 (1999 s/d 2001)
14. Bapak Apip (2002 s/d 2006)
15. Bapak Nasihin Arjadisastra (2007 s/d 2013)
16. Bapak Otong Mulyadin (2013 s/d …..)

Sumber :https://www.facebook.com/kuningankab.go.id/posts/10152356921016515




comments | | Read More...

Panduan Praktis Ajaib Al Quran Menjadi Manusia Cerdas 486x60

Menjelang Pilkades Serentak Di Kab Kuningan

Penulis : Desi Susanti on Saturday, November 7, 2015 | 11:42

Saturday, November 7, 2015

Kuningan, sebanyak 210 calon kepala desa (kades) siap memperebutkan 83  kursi dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di 29 kecamatan  pada 8 November mendatang. Pilkades serentak ini dipastikan akan menyedot perhatian seluruh masyarakat Kuningan.

Pemilihan kepala desa tahun ini terbilang bergengsi dan minim “modal” yang dikeluarkan oleh para calon kades. Soalnya, per desa dibantu dana Rp15 juta. Sisanya ditanggung oleh desa. Selain itu, sejak tahun 2015, setiap kades memeroleh pengahasilan tetap, tidak hanya mengandalkan tanah bengkok atau titisara.

Setiap perhelatan Pilkades, biasanya tidak terlepas dari isu perang mistis antardukun atau paranormal. Jauh-jauh hari, biasanya para calon kades sudah konsultasi dengan para dukun mengenai peluang mereka. Dipastikan, uang yang dikeluarkan juga besar. Ketika sanga lawan menggunakan kekuatan mistis sama, maka akan terjadi perang ghaib.

“Ada perang dukun ketika Pilkades, dan itu bukan hal aneh. Ada yang pergi ke dukun atau orang pintar, agar keinginan mereka terwujud,” ucap salah seorang fasilitator kecamatan yang enggan disebutkan namanya kepada Radar, kemarin (5/11).

Bahkan, menurut sumber lain, ajang Pilkades digunakan sebagai peluang bisnis oleh para dukun dan orang pintar. Meski para calonnya pasti kalah, kata sumber tersebut, para dukun ini selalu bilang pasti menang dan akan dibantu semaksimal mungkin.

“Saudara saya saat ini tengah ‘menggarap’ beberapa calon. Sejak dari awal hingga kini terus melakukan berbagai upaya agar bisa jadi kades,” ucap pria yang mengaku fasilitator calon kades dengan sang dukun atau orang pintar.

Di sisi lain, ada juga calon kades yang menggunakan metode rukiyah sebagai modal pertarungan di Pilkades. Hal itu diungkapkan Dadan, seorang perukiyah. Dia bersama temannya membuka praktik rukiyah mengakui kalau beberapa hari yang lalu pernah merukiyah salah satu calon kades. Cara ini dilakukan untuk mebersihkan si calon kades dari serangan ghaib lawan yang ingin mengalahkan mereka.

“Banyak cara yang dilakukan oleh para calon untuk mengalahkan rivalnya. Salah satunya dengan ilmu hitam. Ilmu hitam itu bisa membuat para pemilih linglung, sehingga salah pilih,” jelas Dadan.

Terpisah, Kepala BPMD (Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa) Kuningan, Drs Deniawan MSi melalui  Kabid Pemdes H  Ahmad Faruk SSos tidak mau berkomentar mengenai adanya isu perang mistis dalam Pilkades. Namun, dia menjelaskan, pada Pilkades tahun ini aturan yang digunakan adalah baru.

Di antaranya, setiap calon minimal dua, kemudian per desa maksimal tiga TPS. Penentuan pemenang ketika terjadi draw atau suara sama, pemenang ditentukan dari penyebaran suara di tiap TPS. Contoh, calon menang di dua TPS, maka dia yang terpilih meski perolehan total suara sama.

“Dari catatan yang kami peroleh, dari 210 calon itu, ada kakak bertarung dengan adik, suami dengan istri, ada juga paman dan ponakan. Dalam aturan tidak ada larangan sehingga pencalonan ini diperbolehkan,” ucap Faruk.

Faruk menyebutkan, mulai dari tanggal 5-7 November 2015, sudah masuk masa tenang. Pihaknya optimistis pelaksanaan Pilkades serentak berjalan lancar.


comments | | Read More...

Panduan Praktis Ajaib Al Quran Menjadi Manusia Cerdas 486x60

Upah Minimum Kabupaten Kuningan Tahun 2016

KUNINGAN – Ditetapkannya UMP (Upah Minimun Provinsi) sebesar Rp1.312.355 oleh gubernur membuat Dinsosnaker Kuningan mulai berhitung mengenai besaran UMK (Upah Minimum Kabupaten)
untuk tahun 2016.  Melihat aturan baru yang menginduk pada Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan, maka diprediksi UMK di kisaran angka Rp1.364.760.

Angka tersebut berdasarkan penjumlahan upah tahun berjalan atau Upah Minimun Kabupaten tahun 2015 sebesar Rp1.224.000, ditambah dengan laju inflasi dan produk domestik bruto (PDB). Untuk perhitungan inflasi, dipatok sebesar 4,63 persen dan PDB 4,63 persen sehingga total 11,5 persen atau sebesar Rp1.224.000.

Dari total 11,5 persen itu, lanjut dia, maka keluarlah angka Rp140.760 dari penjumlahan 11,5 antara laju infalsi dan PDB. Dengan sistem seperti ini, perhitungannya sangat jelas.

“Perhitungan UMK tahun 2016 seperti itu sistemnya. Berbeda dengan tahun lalu, di mana KHL (komponen hidup layak) menjadi pertimbangan,” ucap Kadinsosnaker Kuningan, Drs H Dadan Supardan MPd kepada Radar, kemarin (4/11).

Dia menyebut, apabila dibandingan antara UMP dengan UMK, maka terjadi selisih Rp52.760 atau dengan kata lain ada kenaikan. Sementara itu, besaran KHL sendiri sebesar Rp1.376.588.

Menurutnya, sistem pengupahan yang dilakukan saat ini sudah terbilang layak, sehingga serikat pekerja dapat menerima keputusan ini. Mengenai besaran angka sebesar itu, baru sekadar perkiraan.

“Ini hanya perkiraan kami saja. Untuk pembahasan selanjutnya tentu peresmian dari gubernur. Sebab, meski sudah disepakati, namun UMP itu belum diberi nomor,” ucap mantan kadisdik Kuningan itu.

Dengan besaran seperti ini, lanjut dia, besarnya Upah Minimun Kabupaten Kuningan diyakini berada di atas Kota Banjar dan Kabupaten Ciamis. “Mudah-mudahan besar seperti ini bisa terwujud,” tuturnya.

“Untuk UMP Jabar sendiri, tiap daerah wajib mematuhi. Yang melanggar pasti ada sanksinya. Untuk penentuan jelasnya kami menunggu instruksi provinsi,” ujar Dadang.

Mengenai jumlah perusahaan di Kuningan, kata dia, cukup banyak. Tapi memang perusahaan tidak sebesar di kota lain. Dia tidak menampik bahwa selama ini banyak yang melanggar mengenai pengupahan, terutama yang bekerja di toko-toko. Tapi situasi itu tidak bisa dihindari karena kemampuan sang pemilik toko.

Sumber : http://www.radarcirebon.com/umk-kuningan-2016-diprediksi-rp1-364-760.html



comments | | Read More...

Panduan Praktis Ajaib Al Quran Menjadi Manusia Cerdas 486x60

Rekruitmen CPNS Kuningan Masih Belum Jelas

Penulis : Desi Susanti on Friday, October 23, 2015 | 22:19

Friday, October 23, 2015

KUNINGAN – Masyarakat jangan terlalu berharap ada rekrutment CPNS tahun 2015 di Kabupaten Kuningan. Sebab, hingga kini pemkab belum menentukan sikap terkait hal tersebut. Selain berkaitan dengan moratorium CPNS, juga karena jumlah PNS di Kota Kuda ini masih overload, atau melebihi kapasitas.

“Kami tidak akan gegabah menyatakan akan melakukan perekrutan atau tidak. Kami tidak ingin masyarakat berharap banyak, hingga ujung-ujungnya kecewa,” ujar Sekretaris Daerah (Sekda) Kuningan, Drs H Yosep Setiawan MSi kepada Radar, Jumat (16/10).

Pertimbangannya, ungkap Yosep, anggaran Kabupaten Kuningan sangat terbatas. Jadi tidak akan mencukupi untuk menggaji PNS baru. “Kecuali penggajian PNS baru ditanggung oleh pusat, baru kami siap. Selama ini kan diambil dari daerah melalui DAU (dana alokasi umum). Keinginan penggajian oleh pusat sudah diusulkan oleh banyak bupati/walikota,” katanya.

Diakui Yosep, berdasarkan hasil analisis beban kerja (ABK) Badan Kepegawaian Daerah (BKD), diketahui terdapat banyak kebutuhan pegawai, terutama untuk tenaga pendidik, medis dan teknis. Namun secara jumlah, Yosep memastikan masih sangat cukup. Tidak perlu ada perekrutan CPNS lagi. Tinggal memanfaatkan yang ada.

“Dulu pemerintah pusat meminta ada perekrutan, kemudian ada instruksi moratorium bagi daerah yang anggaran belanjanya lebih dari 70 persen. Tapi kami tetap harus mempertimbangkan lagi secara matang-matang, apakah nanti akan menjadi beban lagi, atau tidak,” katanya lagi.

Meskipun ada tawaran rekrutment CPNS dari pusat lagi, pihaknya tidak akan langsung menerima, terkecuali yang spesifik sesuai kebutuhan. Untuk hal itu, Yosep mengaku masih mengkaji dan berkoordinasi dengan pusat.

“Tapi saya tidak yakin apakah nanti Kuningan akan diberi formasi atau tidak. Kami berharap, masyarakat tidak terlalu berharap akan ada perekrutan CPNS tahun ini,” ujarnya.

Maka, untuk pembenahan kepegawaian di Kuningan, dia tidak pernah bosan berbicara reformasi birokrasi dan penataan kelembagaan. Ini untuk mengetahui apakah distribusi pegawai sudah benar atau belum. Jangan sampai antardinas merasa lebih dan kurang pegawai.

Sumber :http://www.radarcirebon.com/rekrutmen-cpns-tak-jelas.html


comments | | Read More...

Panduan Praktis Ajaib Al Quran Menjadi Manusia Cerdas 486x60

Sukses Djdjang Nurjaman Bersama Persib

Pep Guardiola menjadi guru bagi pelatih Persib Bandung, Djadjang Nurdjaman. Pelatih kelahiran Majalengka ini mengaku mempelajari teknik pendekatan serta taktik yang dimiliki mantan pelatih Barcelona itu.

DJADJANG mengatakan, hal tersebut sangat membantunya dalam banyak hal. Pep Guardiola memang menjadi sosok pelatih yang disukai Djanur. “Saya memang suka dengan metode pendekatan taktik dan strategi Josep Guardiola,” sahut Djanur-sapaan akrab Djadjang Nurdjaman, beberapa waktu lalu.

Meski begitu, bukan Buyern Munchen klub yang dia idolakan sekalipun kini Pep masih mengarsiteki tim asal Jerman itu. Pelatih yang identik dengan kumis dan topinya tersebut mengatakan, Manchester United adalah tim yang dia favoritkan.

“Kalau untuk klub, saya tetap Manchester United. Saya juga belajar cara bermain Manchester United,” ujar pelatih yang sukses membawa Maung Bandung-julukan Persib- meraih trofi juara Indonesia Super League (ISL) 2014 ini.

Djanur memang pelatih yang penuh kejutan. Sempat diragukan saat pertama kali menanggani tim Persib, dia mampu memberikan prestasi mengesakan. Di musim pertamanya membesut Maung Bandung pada kompetisi ISL 2012/2013, Djanur hanya mampu membawa tim kebangaan bobotoh ini menempati peringkat ke empat. Dia bangkit di musim keduanya membesut Maung Bandung. Mengandalkan mayoritas pemain lama dan hanya melakukan sedikit perombakan.

Dia memboyong sejumlah pemain bintang seperti Makan Konate serta Djibril Coulibaly dan Ferdinand Alfred Sinaga. Dengan komposisi itu, dia sukses mengakhiri puasa gelar juara Maung Bandung. Ya, Kota Bandung kala itu menjadi lautan biru ketika konvoi skuat Maung Bandung membawa trofi juara ISL 2014.

Gaya permainan bola-bola pendek dari kaki ke kaki memang menjadi ciri khas Maung Bandung saat ini. “Saya memang suksa dengan pola permainan seperti itu. Dan ini memang ciri khas permainan Persib dari zaman Perserikatan,” pungkas Djanur.

Jalinan antara Djanur dengan Persib, sudah sangat erat. Sebagai pemain, Djanur mengantarkan Persib menjuarai Kompetisi Perserikatan 1986, 1989-1990 dan 1993-1994.

Dalam perjalanan karirnya, Djanur sempat memutuskan untuk meninggalkan Persib dan beralih menjadi pemain profesional yang tampil di Kompetisi Galatama.

Tim yang dibelanya di Galatama adalah Sari Bumi Raya Bandung (1979-1980), Sari Bumi Raya Jogjakarta (1980-1982), Mercu Buana Medan (1982-1985). Ketika Mercu Buana bubar pada pertengahan 1985, dia memutuskan pulang kampung dan langsung diterima pelatih Nandar Iskandar sebagai anggota skuad Persib yang tengah berjuang di Kompetisi Perserikatan 1986.

Bersama Persib tentu saja ia merasakan momen yang paling berkesan dan takkan pernah dilupakannya ketika menjuarai Kompetisi Perserikatan 1986. Dalam pertandingan final menghadapi Perseman Manokwari di Stadion Utama Senayan, Djanur menjadi pahlawan kemenangan lewat gol tunggal yang dicetaknya pada menit 77. Usai pertandingan, Djanur dielu-elukan puluhan ribu Bobotoh. “Itulah momen yang takkan pernah saya lupakan sepanjang hidup saya,” kata Djadjang.

Musim 1990, ketika Persib menjuarai Kompetisi Perserikatan 1990, sebuah umpan silang Djanur menjadi assist bagi gol kedua Persib yang dicetak Dede Rosadi. Persib menjadi juara setelah mengalahkan Persebaya 2-0.

Sementara sebagai pelatih, Djadjang merasakan gelar juara ketika menjadi asisten pelatih Indra M Thohir di Liga Indonesia (LI) I/1994-1995 dan masih dipercaya hingga tahun 1996. Setelah itu ia lebih memantapkan karier kepelatihan dengan menukangi PERSIB Junior (U-23).

Pada tahun 2006 lagi-lagi ia mendapat kepercayaan sebagai asisten pelatih untuk mendampingi Arcan Iurie. Setelah itu ia mengembangkan karir kepelatihan di luar Persib, hingga pada tahun 2012, manajemen Persib mempercayakan dirinya untuk menukangi tim sebagai Pelatih Kepala dalam mengarungi Indonesia Super League tahun 2013.

Kembalinya ke Persib seolah mengulang romantisme juara dengan rekan-rekannya di Liga Indonesia I. Namun kali ini ia menjadi pelatih kepala, “abah” Indra Thohir sebagai Direktur Teknik, dan juga ia dibantu oleh trio mantan pemain yang mengantarkan PERSIB juara LI I, yaitu Anwar Sanusi, Asep Soemantri, dan Sutiono Lamso sebagai asisten pelatih. Hasilnya tidak mengecewakan, di ajang turnamen pra musim Celebes Cup yang digelar di Kota Bandung, Djadjang mempersembahkan tropi juara setelah di final mengalahkan Sriwijaya FC dengan skor 1-0.

Musim selanjutnya (2014) Djadjang masih didaulat sebagai pelatih kepala. Dia mengajak Herrie Setiawan, Asep Soemantri dan Anwar Sanusi sebagai asisten pelatih. Pada Musim itu, Djanur berhasil membawa Persib menjadi juara ISL 2014. Djanur juga mencetak sebuah rekor, yaitu mengantarkan Persib menjadi juara liga sebagai pemain, asisten pelatih, dan juga pelatih kepala.
comments | | Read More...

Panduan Praktis Ajaib Al Quran Menjadi Manusia Cerdas 486x60

Sekilas Kuningan

Penulis : Desi Susanti on Sunday, October 11, 2015 | 17:44

Sunday, October 11, 2015

Kabupaten Kuningan, sebuah kota kecil yang dianugerahi kekayaan alam yang luar biasa. Panorama asri khas kaki Gunung Ciremai nampaknya telah memantapkan Kuningan sebagai kota wisata alam di daerah Jawa Barat. Lihat saja bagaimana Desa Sangkan Hurip dipenuhi oleh resort pemandian air panas. Sebut saja Hotel Prima, Kolam Renang Sangkan Hurip Alami, Hotel Sangkan Indah, Grage Hotel dan Spa dan masih banyak lagi. Tak jarang, pada musim tertentu seperti musim liburan sekolah atau hari raya, daerah ini sangat dipadati oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.

Wisatawan domestik kebanyakan berasal dari Cirebon, Majalengka, Brebes, dan Ciamis. Keberadaan jaringan hotel besar seperti Grage Hotel dan Spa serta Hotel Prima pun menambah luas jangkauan promosi wisata daerah ini. Kedua hotel tersebut merupakan yang paling rajin dalam menjaring wisatawan. Di stasiun Kereta Api Kejaksan (Cirebon) kedua hotel tersebut menyediakan stand khusus serta kendaraan untuk langsung menuju Kuningan.

Pelestarian beberapa elemen budaya pun nampaknya tidak main-main. Kereta kuda (biasa disebut sebagai Delman) masih dilestarikan pemerintah daerah sebagai sarana transportasi masyarakat. Delman dinilai cocok untuk menjadi alat transportasi Kuningan dengan topografi yang berbukit-bukit. Selain itu, kendaraan jenis ini pun dinilai ramah lingkungan ; bebas polusi udara dan unik.

Usaha Pemerintah Kuningan untuk menjadikan Kuningan sebagai kota wisata pun semakin nyata terbentuknya beberapa kelompok usaha makanan traditional. Misalnya saja aneka keripik, opak ataupun tape ketan yang mudah sekali kita jumpai di pinggir jalan kota Kuningan. Tape ketan merupakan hasil fermentasi beras ketan yang dibungkus dalam daun jambu ini merupakan salah satu kuliner khas kota Kuningan. Campuran rasa manis dan asam membuat lidah ketagihan. Kuliner  khas ini pun dikemas dengan cara yang sangat khas. Bukan dengan plastik ataupun botol, tapi dikemas di dalam ember berwarna hitam. Entah ini ide siapa, tapi memang ini unik. Di sepanjang jalan dapat dengan mudah kita jumpai warung-warung makanan khas Kuningan yang tidak jarang juga menjual tape ketan dalam ember hitam.
comments | | Read More...

Panduan Praktis Ajaib Al Quran Menjadi Manusia Cerdas 486x60

Palutungan

PALUTUNGAN, nama sebuah dusun atau kampung  yang terletak di kaki Gunung Ciremai, tepatnya  di
Désa Cisantana, Kécamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan. Daerah ini selain terkenal  sebagai daerah panghasil sayuran, terkenal pula keindahan alamnya. Selain itu terkenal pula sebagai daerah yang punya potensi sumber air cukup melimpah.

Tak heran, karena daerah ini punya banyak sumber air. Sebut saja Curug Putri, Curug Mangkok, Cisurian dan banyak lagi sumber air lainnya yang dimanfaatkan oleh masarakat di daerah itu dan luar daerah.

Selain itu pula Dusun Palutungan sudah sejak lama menjadi daerah yang banyak dikunjungi  wisatawan dari berbagai daerah. Di daerah ini ada lokasi  bumi perkemahan, curug putri, curug mangkok, Cisurian serta banyak lagi potensi wisata lainnya seperti jalur pendakian Gunung Ciremai.
Menurut cerita, nama Palutungan  berasal dari kata Panungtungan (Akhir).

Akhir dari Dalam berbagai kepedihan dan kesengsaraan di masa lalu, akibat banyak rongrongan dari pihak luar yang merugikan.

Kini masyarakat  Dusun Palutungan yang berjumlah tidak kurang dari   900 jiwa, umumnya hidup berkecukupan.  Sebab masyarakatnya rajin bercocok tanam dan punya semangat tinggi untuk meningkatkan tarap kehidupan yang lebih sejahtera. Ada yang bertani, berdagang, beternak sapi perah serta usaha lainnya.*
comments | | Read More...

Panduan Praktis Ajaib Al Quran Menjadi Manusia Cerdas 486x60

Pengunjung

 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use |Advertise with Us | Site map
Copyright © 2011. Seputar Kuningan . All Rights Reserved.
Design Template by Bisnis Online | Support by Catatan Kang Agus | Powered by Blogger | Link Diet Menurunkan Berat Badan