News Update :
Showing posts with label Legenda. Show all posts
Showing posts with label Legenda. Show all posts

Desa Darma ‘Pos Pertahanan Terakhir’ Kerajaan Islam Cirebon

Penulis : Unknown on Saturday, May 24, 2014 | 12:35

Saturday, May 24, 2014

PADA mulanya Desa Darma bukanlah merupakan desa, saat itu tak lebih sekedar suatu tempat yang dijadikan sebagai pos pertahanan kerajaan Islam Cirebon, untuk menyerang kerajaan Galuh Talaga dan kerajaan Galuh Ciamis. Desa Darma memiliki luas 91.58 km2 terdiri atas 5 dusun ini, terletak di sebelah Utara Kecamatan Cigugur, sebelah Selatan Kabupaten Ciamis, sebelah Timur Kecamatan Nusaherang, Kadugede dan Hantara, sebelah Barat Kabupaten Majalengka.

Penelusuran jejak desa ini, diperkirakan terjadi mulai tahun 1528 M, sebagai pos pertahanan pada pertempuran terakhir kerajaan Islam Cirebon, peperangan dengan kerajaan Galuh Talaga yang berlangsung selama kurun waktu 5 tahun dan 5 kali pertempuran. Segenap kekuatan kerajaan Islam di nusantara seperti kerajaan Islam dari Sumatera, Malaka, Banten dan Dari Demak oleh kerajaan Cirebon (Syekh Syarif Hidayatullah) dikerahkan untuk memerangi kerajaan Galuh Talaga, sehingga pada peperangan itu kemenangan dapat di raih oleh kerajaan Islam Cirebon.

Pada peperangan terakhir, kerajaan Islam Cirebon selain berperang dengan kerajaan Galuh Talaga juga berperang dengan kerajaan Galuh Ciamis, namun menurut cerita sebelum kerajaan Islam Cirebon menyerang kerajaan Galuh Ciamis, kerajaan Galuh Ciamis (masih satu keturunan dengan kerajaan Galuh Talaga) telah menyerah pada kerajaan Islam Cirebon, dan berikrar bahwa kerajaan Galuh Ciamis tidak akan mengganggu dan menyerang kerajaan Islam Cirebon, namun sebagai tindakan antisipasi kerajaan Islam Cirebon tetap membuat pos pertahanan daerah situ Panjalu Ciamis (Situ Lengkong).

Di perbatasan kerajaan Galuh Talaga dengan kerajaan Cirebon, serangan pasukan Prabu Jaya Diningrat dari kerajaan Galuh Talaga dihadang oleh pasukan Adipati Kuningan Suraga Jaya, sang Suraga Jaya merupakan putra dari Ki Gedeng Luragung (Jaya Raksa) anak angkat Arya Kamuning (Barata Wijaya) yang ditugaskan oleh kerajaan Cirebon agar melindungi pesantren-pesantren yang berada di perbatasan kerajaan Cirebon dengan kerajaan Galuh Talaga.

Pada masa peperangan terakhir tahun 1700 M. Pasukan Putra Sri Baduga Maha Raja (Haji Abdulah Imam) dengan pasukan putra Prabu Ningrat Kancana (Prabu Jaya Diningrat) yang dipimpin oleh Haji Abdulah Imam dan Fadilah Khan serta dibantu oleh kerajaan-kerajaan Islam lainnya termasuk Wadya Balad dari pos pertahanan di desa Darma dikerahkan untuk menyerang ke kerajaan Galuh Talaga. Pada saat itu pos pertahanan dipimpin oleh seorang ulama dari Malaka yaitu Syeh Datuk Kaliputah (Embah Damar Wulan), beliau utusan kerajaan Islam Cirebon. Suatu hari Syekh Datuk Kali Putah kedatangan utusan dari kerajaan Islam Cirebon yaitu Syekh Rama Haji Irengan dengan membawa pesan, “Katakan pada Syeh Datuk Kaliputah, bahwa kerajaan Islam Cirebon saat ini mendapat ancaman dari kerajaan Galuh Talaga dan kerajaan Galuh Ciamis.”

Pesan itu pun disampaikan oleh Syekh Rama Haji Irengan kepada Syekh Datuk Kali Putah (Embah Damar Wulan). Akhirnya Syekh Datuk Kali Putah menyiapkan pasukan untuk ikut menyerang kerajaan Galuh Talaga yang dipimpin oleh Syekh Habibullah (Embah Sapu Jagat) dengan pasukan lainnya, yaitu Embah Buyut Rangga Jaya, Embah Buyut Rangga Wisesa, Embah Buyut Rangga Wisempek, dan Embah Buyut Sudamelawi. Kelima utusan tersebut menuju suatu tempat yang berbatasan langsung dengan kerajaan Galuh Talaga dengan jarak dari desa Darma kurang lebih enam puluh kilometer naik turun gunung, Kaki Gunung Gede (Gunung Ciremai), tepatnya di Gunung Pucuk. Pasukan tersebut menyerang pasukan Galuh Talaga yang mencoba menyusup ke kerajaan Cirebon melalui kaki Gunung Gede (Gunung Ciremai).

Pertempuran pun berlangsung cukup sengit, dan berlangsung cukup lama, enam bulan lamanya. Akhirnya kelima tokoh tersebut selesai perang tidak semuanya kembali ke Darma, namun mereka ada yang menetap di kaki gunung Ciremai, ada pula yang menetap di Situ Sanghiang dan ada yang kembali ke desa Darma, yaitu Syekh Habibullah (Embah Sapu Jagat).

Sepulangnya dari peperangan Embah Sapu Jagat menetap di dusun Gunung Luhung. Luhung artinya pintar/sakti, namun karena takut dianggap terlalu sombong, akhirnya diganti nama Gunung Luhung menjadi Gunung Luhur.

Kira-kira pada tahun 1732 M. Darma sudah mulai dihuni oleh masyarakat dengan budaya dan pengaruh diambil dari kerajaan Galuh Talaga yang menganut agama Hindu. hal ini dibuktikan dengan sisa-sisa peninggalan sejarah baik seperti cerita Lutung Kasarung yang berlokasi di desa Karang Sari, desa Gunung Sirah, maupun peninggalan berupa material atau puing-puing bekas bangunan dan candi yang ditemukan di daerah Sagara Hiang.

Darma merupakan daerah di selatan pegunungan Ciremai dengan kondisi alam yang sangat indah, menghijau hamparan persawahan cukup luas, mata air mengalir dengan jernihnya, sungai berkelok mengitari setiap kampung. melintang dari timur ke barat membelah kawasan waduk Darma, sehingga menjadi salah satu daya tarik yang luar biasa, maka dalam waktu yang cepat Darma telah menjadi pusat kegiatan masyarakat yang cukup maju dan sekarang menjadi sebuah kecamatan

Sumber : radarcirebon.com/desa-darma-pos-pertahanan-terakhir-kerajaan-islam-cirebon.html
comments | | Read More...

Panduan Praktis Ajaib Al Quran Menjadi Manusia Cerdas 486x60

Legenda Dewi Padi Cerita Rakyat Jawa Barat

Penulis : Unknown on Thursday, May 22, 2014 | 10:00

Thursday, May 22, 2014

Di tengah kehidupan masyarakat Purwagaluh yang hanya menggantungkan sumber makanan dari hasil buruan, kehidupan berubah menjadi neraka ketika hutan tak lagi menyediakan binatang untuk diburu.

Tanah kering kerontang dan sungai tidak lagi menyisakan air yang memberi kehidupan pada hewan dan tumbuhan. Purwagaluh adalah satu wilayah yang tengah mengalami bencana kekeringan terparah.

Sadana, Adikara, dan Dewi Sri, tiga orang yang ditugaskan mencari jalan keluar untuk membebaskan warga dari kesulitan dan memperbaiki kehidupan Purwagaluh secara keseluruhan. Namun dalam perjalanan tugas yang pertama pun mereka sudah menemukan kesulitan yang datang dari musuh bebuyutan mereka sejak kecil.

Demi mendapatkan Adikara yang dicintainya sejak kecil, Nuridami tak pernah berhenti mengejar dan menghalalkan segala cara dengan memanfaatkan kesaktian sang nenek, Nyi Ulo juga kakaknya Sapigumarang dan Singasatru.
Dalam satu pertarungan, Dewi Sri yang menyamar menjadi Camar Seta berhasil membunuh Singasatru yang saat itu memimpin kelompok Bajak Lautnya menyerang Pelabuhan Atasangin, pulau yang paling maju dan makmur kala itu dan menjadi tempat Dewi Sri, Sadana dan Adikara mempelajari sebab kemajuan Atasangin untuk diterapkan di Purwagaluh.

Sapigumarang sangat murka mengetahui kabar kematian adiknya, Singasatru di Atasangin oleh Camar Seta. Segera ia mendatangi Sadana untuk membalas dendam pada Camar Seta. Namun Nyi Ulo menahannya dengan alasan Singasatru yang jauh lebih saktipun berhasil dikalahkan Camar Seta.

Akhirnya Sapigumarang mau berlatih secara khusus bersama Nyi Ulo untuk menyempurnakan ilmu Lebursaketinya. Dari situlah Sapigumarang kemudian menyadari sumber kekuatannya yang besar, yaitu amarah yang bisa melipat gandakan kekuatannya hingga mampu menguasai Lebursaketi dengan sempurna.

Segera setelah itu Sapigumarang mendatangi Sadana untuk membunuh Camar Seta, Sadana beralih tidak mengenal Camar Seta. Sapigumarang tak mau percaya dan menyangka Camar Seta adalah Adikara yang memakai nama palsu.
Sadana yang berniat membantu dihajarnya hingga pingsan dan Adikara dibawa pergi setelah tidak berdaya karena Nuridami merayu Sapigumarang untuk tidak membunuhnya.

Dewi Sri sangat sedih mengetahui kekasihnya, Adikara ditawan oleh Sapigumarang. Namun berkat kesaktian Malihwarni yang diajarkan oleh kakeknya, Aki Tirem, Dewi Sri bisa merubah dirinya menjadi seekor harimau jadi sangat frustasi dan akhirnya bunuh diri.

Sapigumarang jadi murka dan gelap mata setelah Budugbasu dan Kalabuat menghasutnya dan menuduh Dewi Sri yang telah membunuh Nuridami karena cemburu. Sapigumarang langsung menyusun kekuatan untuk membunuh Dewi Sri sekaligus menguasai Purwagaluh yang saat itu sudah berubah menjadi wilayah yang sangat makmur berkat Dewi Sri, Sadana dan Adikara yang berhasil menciptakan sawah padi di sana.

Dan ketika Dewi Sri dan Adikara merayakan panen padi pertama bersama warga di Desa Cidamar, pasukan Sapigumarang yang dipimpin Budugbasu datang untuk merebut semua hasil panen dan menangkap Dewi Sri. Namun Dewi Sri yang sudah sangat sakti berhasil mengalahkan Budugbasu dan semua pasukannya.

Sapigumarang tidak menyerah, ia menunjuk Kalabuat untuk menggantikan Budugbasu dan memimpin pasukan yang lebih banyak. Kalabuat yang licik bersiasat untuk menyerang malam hari dengan kekuatan penuh. Saat itu Dewi Sri dan Adikara hanya berjaga - jaga dengan pemuda dan warga yang jumlahnya sangat sedikit karena banyak diantara warga Cidamar yang terbunuh pada peperangan melawan Budugbasu.

Kalabuat dan pasukannya yang besar datang dengan penuh percaya diri. Ketika mengepung sawah, tempat Dewi Sri memfokuskan penjagaan. Dewi Sri dan Adikara tak mau menyerah begitu saja, mereka melawan semua pasukan Kalabuat dengan sepenuh tenaga. Saat itu Budugbasu yang sangat dendam keluar dengan pasukannya karena ingin Dewi Sri dan Adikara hanya mati di tangannya.

Kalabuat sempat marah karena Bubugbasu hanya memimpin pasukan bantuan dan seharusnya belum boleh keluar. Tapi Budugbasu tak peduli dan segera menyerang Dewi Sri untuk membunuhnya.Dewi Sri dan Adikara sangat terdesak menghadapi jumlah pasukan yang semakin banyak. Saat itulah Dewi Sri mengeluarkan ajian Malihwarninya dan merubah dirinya menjadi ratusan kelelawar besar yang sangat buas.

Pasukan Kalabuat dan Budugbasu kalang kabut menghadapi serangan ratusan kelelawar, mereka semua terbunuh dan hanya sedikit yang berhasil melarikan diri. Sementara Kalabuat dan Budugbasu pun tak luput dari serangan kelelawar. Mereka pun kemudian melarikan diri dengan wajah dan bukan yang penuh luka gigitan.

Sapigumarang sangat murka mengetahui Kalabuat dan Budugbasu kembali kalah oleh Dewi Sri, terlebih lagi semua pasukannya yang habis terbunuh. Ia dengan murka menghajar Kalabuat dan Budugbasu. Kalabuat membela diri dan menyalahkan Budugbasu yang membawa keluar pasukan bantuannya hingga akhirnya semua pasukan habis terbunuh.

Budugbasu tak mau kalah, ia menyalahkan Kalabuat yang bersiasat menyerang malam hari hingga mereka diserang kelelawar ganas ciptaan sihir Dewi Sri.

Mengetahui Dewi Sri yang menguasai sihir Sapigumarang segera meminta bantuan Nyi Ulo untuk menghadapi Dewi Sri. Namun Dewi Sri dengan cerdik mengalahkan semua sihir dari Nyi Ulo yang menyerangnya, bahkan Nyio Ulo pun tewas oleh serangan balik dari Dewi Sri.

Sapigumarang murka dan menantang Dewi Sri untuk adu tanding dengannya. Dewi Sri melayani tantangan Sapigumarang dan bertarung dengan tangan kosong. Sapigumarang yakin mampu membunuh Dewi Sri dengan kekuatan penuh Lebursaketinya. Namun Dewi Sri yang sudah bersiap dengan ajian Sungsangbuana berhasil mengembalikan pukulan dahsyat Lebursaketi.

Sapigumarang pun tewas oleh ajian Lebursaketinya sendiri. Mengetahui kenyataan itu Kalabuat dan Budugbasu tak bisa berbuat apa-apa. Merekapun menyerah ketika pasukan Sadana tiba-tiba datang meringkusnya.

Semua warga dan pasukan bergembira menyambut kemenangan Dewi Sri. Mereka semua mengelu-elukan nama Dewi Sri dan menjulukinya sebagai Dewi Padi karena jasa terbesarnya yang telah menciptakan tanaman padi diseluruh wilayah Purwagaluh.
comments | | Read More...

Panduan Praktis Ajaib Al Quran Menjadi Manusia Cerdas 486x60

Cerita Sejarah KIAN SANTANG

Tulisan oleh: Kandjeng Pangeran Karyonagoro, 2005

Kian Santang adalah tokoh tasawuf dari tanah pasundan yang ceritanya melegenda khususnya di hati masarakat pasundan dan kaum tasawuf ditanah air pada umumnya. Tokoh kian-santang ini pertama kali berhembus dan dikisahkan oleh raden CAKRABUANA atau pangeran walangsungsang ketika menyebarkan islam di tanah cirebon dan pasundan. Pangeran cakrabuana adalah anak dari prabu sili-wangi atau jaya dewata raja pajajaran, yang dilahirkan dari permaisuri ketiga yang bernama nyi subang larang, subang-larang sendiri murid dari mubaliq kondang yaitu syeh maulana-hasanudin atau terkenal dengan syeh kuro krawang.

Mulanya yaitu, ketika raden walangsungsang memilih untuk pergi meninggalkan galuh pakuan atau pajajaran, yang di sibebabkan oleh keberbedaan haluan dengan keyakinan ayahnya yang memeluk agama “shangyang”, pada waktu itu. diriwayatkan beliau berkelana mensyi’arkan islam bersama adiknya yaitu rara santang (ibu dari syarif hidayatullah atau “sunan gunung jati”) dengan membuka perkampungan di pesisir utara yang menjadi cikal-bakal kerajaan caruban atau kasunanan cirebon yang sekarang adalah “kota madya cirebon”.

Legenda kian-santang sendiri diambil dari sebuah kisah nyata, dari tanah pasundan tempo dulu yang ceritanya pada waktu itu tersimpan rapi berbentuk buku di perpustakaan kerajaan pajajaran. Karena pajajaran adalah hasil penyatuan dua kerajaan antara galuh dan kerajaan sunda pura yang dimana kerajaan galuh dan sundapura adalah dua kerajaan pecahan dari taruma negara, yang di masa prabu PURNA-WARMAN yaitu raja ketiga dari kerajaan taruma negara yang di pecah menjadi dua yaitu tarumanegara yang berganti sundapura dan ibukota lama menjadi galuh pakuan. Dan jaya dewata menyatukan kembali dua pecahan kerajaan taruma negara menjadi pajajaran.

Di mana di kisahkan pada waktu itu yaitu abad ke 4m atau tahun 450 pernah terdapat putra mahkota yang sakti mandraguna bernama GAGAK LUMAYUNG yang dalam ceritanya “di tataran suda dan sekitarnya ,tak ada yang mampu mengalahkan ilmu kesaktiannya. hingga suatu saat datang pasukan dari dinasti TANG yang hendak menaklukkan kerajaan tarumanegara. namun berkat gagak lumayung, pasukan TANG dapat di halau dan tunggang-langgang meninggalkan taruma negara.

Semenjak itu raden gagak lumayung di beri sebutan ”KI AN SAN TANG” atau ”penakluk pasukan tang” Di ceritakan sang kiansantang ini karena saking saktinya hingga dia rindu kepingin melihat darahnya sendiri. Hingga sampailah di suatu ketika sa’at dia mendapat wangsit di tapabratanya bahwah di tanah arab terdapat orang sakti mandraguna.  Konon: dengan ajian napak sancangnya raden kian santang mampu mengarungi lautan dengan berkuda saja. “Di mana dalam ceritanya ketika sampai di pesisir beliau bertemu seorang kakek ,dan padanya dia minta untuk di tunjukan di mana orang sakti yang kian santang maksud tersebut”.  Dan dengan senang hati si-kakek tersebut menyanggupinya dan sementara dia mengajak beliau “kiansantang” untuk mampir dulu ke rumahnya.

Al-kisah setelah sampai di rumahnya tongkat dari sang kakek tersebut tertinggal di pesisir dan minta kian santang untuk mengambilkanya ,konon dikisahkan si-kian santang tak mampu mencabutnya sampai tanganya berdarah-darah ,disitulah kian santang baru sadar kalau kakek itu adalah orang yang di carinya.  Dan akhirnya dengan membaca kalimah syahadat yang di ajarkan sang kakek tadi “yang akhirnya menjadi guru spiritualnya” tongkat tersebut dapat di cabut .

Cerita tersebut membumi sekali sampai saat sekarang. Dan yang aneh, kebanyakan orang menduga kalau kian santang itu adalah raden walang sungsang. Padahal banyak sekali cerita yang sepadan dengan kisah raden walang sungsang tersebut. Yang sesungguhnya dialah yang mengisahkan justru dialah yang di kira pelaku (raden walang sungsang atau pangeran cakrabuana) sebagai tokoh yang diceritakan itu. Tujuannya adalah hanya sebagai media dakwah dan penyebaran islam di bumi cirbon dan sekitarnya. Sehingga sampai sekarang banyak kalangan yang menyangka raden walangsungsang adalah kian santang bahkan ada yang menafikan kian santang adalah adik cakrabuana dan kakak dari rara santang.

Raden walangsungsang mengambil cerita ini dari perpustakaan kerajaan pajajaran dengan pertimbangan karena kisah itu mirip dengan kisahnya, Yang di mana kian santang setelah pulang dari arab dia ingin meng-islamkan ayahnya prabu purnawarman namun di tolaknya dan kian santang memilih meninggalkan istana dan tahtanya di berikan adiknya yaitu darmayawarman. Begitu pula raden walang sungsang yang pernah merantau ke arab dan meningkahkan adiknya rara santang yang di ambil istri oleh putra kerajaan mesir waktu itu dan pernikahan berlangsum di mesir yang dari perkawinan inilah nanti akan lahirlah raden syarif hidayatullah atau sunan gunung jati.

Keinginan Walangsungsang untuk meng-islamkan prabu siliwangi ditolak mentah-mentah dan ayahnya tidak ingin bertarung dengan anaknya maka dia memilih mensucikan diri atau bertapa, konon beliau menjelma macan putih. Pengambilan kisah penokohan dalam sebuah ceritra seperti ini sebenarnya pernah pula terjadi pada era sebelum raden walang sungsang yang tepatnya dilakukan oleh raja jaya-baya (raja islam pertama di tanah jawa) dari kerajaan panjalu atau kediri, di mana suaktu masih di pegang raja airlangga kerajaan tersebut bernama kerajaan KAHURIPAN dan karena kedua anaknya semua meminta tahta maka kahuripan di bagi dua yaitu panjalu dan jenggala. Sepanjang perkembangan dua kerajaan tersebut selalu bermusuhan dan pada masa kerajaan panjalu dirajai oleh jaya baya, panjalu mampu menaklukkan jenggala dan di satukan lagi antara jenggala dan panjalu.

Pada waktu panjalu menaklukkan jenggala rajanya jaya-baya meminta empu sedha dan empu panuluh untuk mengutip naskah dari india yang judulnya maha barata. namun di ferifikasi dengan gaya jawa. Sebagai perlambang atas kemenangan perang saudara panjalu atas jenggala. Yang akhirnya kitab tersebut di beri judul barata-yuda. Dan dalam kisah klasik jawa ini banyak kalangan masarakat yang mengira bahwa jaya baya adalah kelanjutan dari trah barata yaitu cicit dari parikesit putra abimanyu.

Juga kisah lainnya yang serupa pernah pula hadir kemasarakat yang tujuannya waktu itu sebagai media dakwah untuk melindungi rongrongan ajaran syariat terhadap kaum sufi.maka ketika bergerak menyebarkan islam WALI SONGO menurt banyak kalangan membuat cerita al-halaq fersi indonesia yaitu syeh siti jenar. Yang menurut Doktor Simon dari UGM Yogja berdasarkan temuannya karya-karya besar berupa naskah suluk dari sunan kali jaga dan lain sebagainya. Dapat di pastikan tokoh siti jenar adalah imajener hanya untuk media dakwah dan melindungi islam agar tetap pada ajaran ahlusunah wa jamaah.

Sumber http://www.kuninganonline.com/ dan : http://sejarahsiliwangidankiansantang.blogspot.com/
comments | | Read More...

Panduan Praktis Ajaib Al Quran Menjadi Manusia Cerdas 486x60

Pengunjung

 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use |Advertise with Us | Site map
Copyright © 2011. Seputar Kuningan . All Rights Reserved.
Design Template by Bisnis Online | Support by Catatan Kang Agus | Powered by Blogger | Link Diet Menurunkan Berat Badan